Alasan Untuk Mengeluarkan Fatwa Bahwa Vaksinasi COVID-19 adalah HARAM

Alasan Untuk Mengeluarkan Fatwa Bahwa Vaksinasi COVID-19 adalah HARAM

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Cirebon, 07 Februari 2021
Kepada Yth,
Majelis Ulama Indonesia
di
Tempat
Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh
Saudara-saudara anggota MUI yang terhormat,
Saudara-saudara telah memberikan fatwa bahwa vaksin Sinovac adalah Halal. Bahkan saudara-saudara menambahkannya dengan kata Suci. Vaksin Sinovac adalah Halal dan Suci. Atau jangan ragu-ragu untuk memasukkan vaksin itu kedalam tubuh manusia, kalau memang di perlukan. Dan fatwa itu seyogyanya hanya berlaku untuk vaksin Sinovac saja. Sebab baru vaksin Sinovac yang anda lihat secara nyata, bagaimana proses pembuatannya.
Saudara-saudara anggota MUI yang terhormat,
Pada hemat saya, bila vaksinasi Sinovac memberikan mudharat yang lebih banyak ketimbang manfaatnya, berdasarkan alasan-alasan yang sangat kuat, maka fatwa itu harus di rubah. Vaksin Sinovac memang suci. Tetapi haram untuk di suntikkan atau di masukkan ke dalam tubuh manusia, sebab mudharat nya lebih banyak ketimbang manfaatnya. Betapapun bila terkena cairan vaksin Sinovac, maka air sembahyang tidaklah batal dan baju tidak perlu di cuci.
Saudara-saudara anggota MUI yang terhormat,
Kalau dalam masalah agama adalah baik, bila kita mengikuti pendapat jumhur ulama. Apakah cara berfikir seperti itu dapat kita gunakan juga dalam masalah kedokteran?
Pada pemikiran saya, tidak ada istilah pendapat jumhur para dokter. Yang ada adalah para dokter yang bebas merdeka dalam berpendapat vs para dokter yang sangat patuh dan taat pada keinginan WHO. Atau dalam istilah agama, para dokter seperti itu dikatakan sebagai taklid buta terhadap WHO. Dilain pihak, dokter-dokter yang bebas merdeka itu, saat ini makin bertambah banyak jumlahnya diatas dunia ini. Mereka pun telah membuat banyak tulisan dan Youtube untuk menolak vaksin dan vaksinasi COVID-19.
Bagi dokter-dokter yang bebas merdeka itu, WHO bukanlah kebenaran yang harus selalu di ikuti. Orang-orang LGBT yang di katakan WHO sama sehatnya dengan non LGBT haruslah di tolak1. Saya sendiri pernah menolak keinginan WHO, untuk melakukan vaksinasi DBD di Indonesia tahun 20122. Dimana dengan fasilitasi dari Presiden SBY saat itu, saya di pertemukan, dengan para dokter-dokter pilihan Depkes, untuk berdebat tentang masalah itu di Depkes pusat RI. Dan alhamdulilah vaksinasi DBD yang telah di canangkan untuk diberikan pada seluruh rakyat Indonesia gagal untuk di lakukan. Saya pun pernah membuat tulisan untuk menolak vaksinasi virus Zika, ketika WHO menginginkan supaya dunia ini, mendapatkan vaksinasi virus Zika.3 Bukan hanya pada vaksinasi saja saya menolak keinginan WHO. tetapi juga dalam masalah mendasar seperti teori suatu penyakit. Saya beserta guru-guru saya mengusulkan pada WHO, untuk merubah patogenesis DBD Secondary Heterologous Infection dari Halstead, menjadi teori Hipersensitifitas tipe III. 4 Pada dokter-dokter yang merdeka, semuanya mungkin saja salah, termasuk WHO. Hanya kitab suci Al-Qur’an yang tak mungkin salah.
Saudara-saudara anggota MUI yang terhormat,
Kesan saya dari fatwa yang anda buat soal vaksin COVID-19 itu adalah anda semua kurang mendapatkan informasi dari para dokter yang mempunyai pendapat berbeda. Padahal fatwa yang anda keluarkan itu sangat penting dalam usaha menyelamatkan kehidupan rakyat Indonesia (dalam arti seluas-luasnya). Karena vaksinasi COVID-19 perlu di lakukan berulang kali. Bukan hanya 1 atau 2 kali saja, tetapi bisa 5 sampai 6 kali atau puluhan kali. Hal itu disebut dengan booster. Booster atau penyuntikan ulang berkali-kali (entah sampai kapan), harus di lakukan untuk terus mempertahankan kekebalan kita terhadap virus penyebab COVID-19.
Untuk memudahkan pemberian informasi itu, maka akan saya buat dalam bentuk tanya jawab.

  1. Apakah vaksinasi dapat mencegah pandemi COVID-19?
    Jawab: Pandemi adalah terus bertambahnya orang-orang yang terinfeksi COVID-19. dan itu di dasarkan atas hasil swab tenggorokan atau rapid antigen yang positif virus penyebab COVID-19. Sehingga tujuan utama vaksinasi adalah mencegah terjadinya hal tersebut, karena adanya kekebalan pada orang-orang yang telah di vaksin. Begitu pentingnya vaksinasi COVID-19, sehingga Bloomberg John Hopkins University mengatakan bahwa bila Indonesia gagal melakukan vaksinasi pada 70% rakyatnya, maka di perkirakan, baru 10 tahun yang akan datang rakyat Indonesia akan terbebas dari pandemi.
    Apakah benar demikian? Apakah vaksinasi COVID-19 dapat menciptakan kekebalan terhadap COVID-19? Jawabannya adalah Tidak.
    Kemungkinan untuk terjadinya COVID-19 pada seseorang yang telah di vaksin dan yang belum di vaksin sama saja. Penularan COVID-19 adalah melalui saluran nafas bagian atas. Sehingga respon imunitas yang melawan COVID-19 adalah yang berasal dari saluran nafas bagian atas (MALT, NALT). dan yang paling berperanan adalah IgA. Antibodi yang terbentuk akibat vaksinasi, baru berarti bila virus tersebut masuk kedalam darah. Atau antibodi yang terbentuk akibat vaksinasi tersebut tidak dapat mencegah masuknya dan berkembangnya virus penyebab COVID-19 di saluran nafas bagian atas kita. Dan ini berarti pandemi COVID-19 terus saja berkembang.
    Bagaimana dengan efektifitas vaksin yang dikatakan 63.5% pada uji vaksin fase III itu? Apakah itu bukan berarti bahwa vaksinasi memang dapat mencegah pandemi COVID-19? Efektifitas yang dikatakan 63.5% pada uji fase III adalah bersifat subjektif. Karena 63.5% itu bisa di katakan bukan oleh karena keampuhan vaksin, tetapi oleh karena sistim imunitas saluran nafasnya yang baik atau karena gizinya baik atau karena orang tersebut tidak banyak kontak dengan orang yang terpapar COVID-19 atau karena orang tersebut disiplin melakukan 3M. Efektifitas suatu vaksin haruslah di ukur secara objektif. Berapa titer antibodi yang di hasilkannya setelah vaksinasi. Dan itu dilakukan pada fase II uji klinis.
    Kesimpulannya vaksinasi COVID-19 tidak dapat mencegah atau mengurangi pandemi.
  2. Apakah vaksinasi dapat mencegah terjadinya gejala yang berat pada seseorang bila terinfeksi COVID-19?
    Jawab : Bila kita memakai patokan bahwa imunogenitas vaksin baru dikatakan baik bila setelah divaksin menimbulkan panas/suhu tubuh lebih 37,5 derajat Celsius, Ig G antibodi mempunyai titer lebih 1:200,ABN lebih 1:200,limposit T sitotoksik dan sel NK yang jumlahnya meningkat, dan pernah di uji coba pada manusia 60 tahun ke atas, maka berdasarkan hasil laboratorium pada fase 2 seperti yg mereka laporkan pada jurnal-jurnal internasional, 10 vaksin unggulan WHO terlebih lagi Sinovac memberikan respon imunitas yang rendah. Karena tidak ada satupun yang memenuhi kriteria yang saya sebutkan. Mereka harus menaikkan dosis vaksin supaya mencapai standar respon imunitas yang memadai seperti kriteria saya itu. Dan itu berarti ancaman horor akibat vaksinasi akan terjadi.
    Dengan dasar bahwa respon imunitas yang dihasilkan setelah vaksinasi adalah rendah, maka gejala berat bila terinfeksi COVID-19 tetap akan terjadi, walaupun di vaksinasi.
  3. Apakah vaksin Sinovac adalah vaksin terlemah dari 10 vaksin unggulan WHO?
    Jawab : Sinovac baru saja mempublikasikan penelitiannya, bahwa vaksin Sinovac juga aman dan efektif bila diberikan pada manusia 60 tahun keatas (Zhiwei Wu, et al. Safety, tolerability, and immunogenicity of an inactivated SARS CoV-2 vaccine [CoronaVac] in healthy adults aged 60 years and older: a randomised, double-blind, placebo-controlled, phase 1/2 clinical trial. The Lancet, February 03rd 2021).
    Seperti juga hasil penelitian mereka pada 600 relawan dengan umur 18-59 tahun (Zhang Y, et al. Safety, tolerability, and immunogenicity of an inactivated SARS CoV-2 vaccine in healthy adults aged 18-59 years: a randomised, double-blind, placebo-controlled, phase 1/2 clinical trial. The Lancet, October 27th 2020), penelitian pada relawan berusia 60 tahun ke atas ini memakai standar titer yang lemah. Ig G antibodi yang dihasilkan vaksin dianggap sukses bila yang tadinya tanpa Ig G antibodi terhadap SARS-COV-2/Seronegatif berubah menjadi seropositif (tidak perduli titer seropositif itu berapa). Atau dianggap positif bila terjadi peningkatan titer sebanyak 4x (tidak peduli berapa titernya). Begitupun dengan terbentuknya antibodi netralising. Cukup hanya dengan ABN titer lebih besar dari 1:8 maka ABN dianggap positif. Harusnya Ig G antibodi dilakukan pengukuran dengan cara standar yaitu cara Elisa, seperti yg dipakai oleh vaksin lain. Jadi titernya berapa, bukan peningkatan titer atau membandingkan titer awal sebelum divaksin dengan titer setelah divaksin. Saya memakai patokan 1:200. Contoh Pfizer Ig G antibodinya mencapai titer 1:5000, Moderna 1:782,. Titer NAB dari Sinovac yang berpatok 1:8 sangat rendah. Saya memakai standar 1:200 sebagai standar minimal. Karena vaksin-vaksin lain berada jauh diatas itu. Misalnya Pfizer 1:437,Moderna 1:343,8.
    Dengan dasar diatas Sinovac adalah vaksin terlemah dalam menimbulkan respon imunitas terhadap COVID-19 dari 10 vaksin unggulan WHO. Untuk lebih jelasnya silahkan baca “Agama COVID-19 Vaksin Dagelan, dan Vaksin Horror.5
  4. Apakah Vaksinasi COVID-19 itu aman?
    Jawab : Dibalik hasil respon imunitas yang rendah yang di timbulkan dari 10 vaksin unggulan WHO itu, secara tersembunyi juga ada kemungkinan ancaman horor. Termasuk juga pada Sinovac, vaksin terlemah dari 10 vaksin unggulan WHO itu, (berdasarkan uji klinis fase 2.) Vaksin virus mati (Sinovac, Sinopharm) dan vaksin yang mengandung protein dari virus itu (vaksin-vaksin lainnya), mudah masuk ke organ-organ dalam kita, (jantung, otak, ginjal dsb),karena adanya enzim ACE2. Dan itu dapat memicu reaksi dari sistem imun kita,yang bisa membuat organ-organ utama kita itu mengalami kerusakan dan bisa berefek mempercepat kematian. Itu yang menyebabkan vaksinasi COVID-19 jauh lebih berbahaya ketimbang vaksinasi-vaksinasi lainnya, seperti BCG, Hepatitis, Dipteri, Tetanus dsb.
    Apa yang terjadi di Norwegia, dimana puluhan orang tua diatas 80 tahun meninggal dunia, setelah vaksinasi dengan vaksin Pfizer, menunjukkan bukti bahwa protein virus SARS-COV-2, dapat masuk ke sel otot jantung. Tapi mereka berkilah bahwa, hal itu bukan disebabkan vaksinasi. Mereka mengatakan itu karena penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya dari orang-orang tua itu. Begitupun dengan kematian dokter yang masih berusia muda itu ( kurang dari 50 tahun). Dokter itu dituduh telah mempunyai penyakit jantung yang tidak diketahui oleh dirinya. Padahal walaupun tidak mempunyai penyakit jantung, bisa saja terjadi serangan jantung pada dokter tersebut akibat vaksinasi Sinovac. Hal itu disebabkan virus mati dari Sinovac dalam jumlah besar, masuk ke sel otot jantung dokter tersebut. Sehingga memicu reaksi imunitas hebat intra sel melalui limposit T sitotoksik dan sel NK. Pada hari ini tanggal 7-2-2021 dikabarkan pula seorang dokter meninggal lagi, setelah berapa hari di rawat. Dimana dokter tersebut di rawat karena mengalami sesak nafas, setelah divaksinasi.
    Seharusnya safety suatu vaksin, harus di riset selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Terlebih lagi vaksinasi COVID-19. Tapi hanya dalam tempo kurang dari 1 tahun WHO telah mengizinkan vaksin-vaksin tersebut diberikan pada masyarakat.Sehingga saya katakan vaksinasi COVID-19 adalah tidak aman. Identik dengan bermain Rolet Rusia. Dan bermain Rolet Rusia adalah sesuatu yang haram
    Saudara-saudara anggota MUI yang terhormat,
    Demikianlah informasi berbeda yang saya berikan pada anda semua. Dimana kesimpulannya adalah vaksinasi COVID-19, tidak mencegah pandemi, tidak mencegah terjadina gejala berat setelah terinfeksi COVID-19 dan kemungkinan berbahaya pada orang yang mendapatkan vaksinasi.
    Bila anda mengakui itu, maka fatwa bahwa vaksinasi COVID-19, adalah haram, harus anda beritahukan pada pemerintah dan masyarakat. Fatwa anda sangat penting dalam menyelamatkan kehidupan rakyat Idonesia di dunia ini bahkan di akhirat. Sangat pasti, bahwa anda semua akan di minta pertanggung jawaban di akhirat, atas fatwa yang anda keluarkan.
    Berdasarkan tulisan ini, fatwa anda yang mengatakan vaksin COVID-19 adalah halal dan suci akan menyebabkan kesulitan pada kehidupan rakyat Indonesia di dunia dan di akhirat. Sedangkan fatwa bahwa vaksinasi adalah haram, akan menyelamatkan kehidupan rakyat Indonesia di dunia bahkan di akhirat. Tidak usah takut, pada kampanye penjual vaksin seperti yang dikatakan Bloomberg John Hopkins University. Penyakit SARS yang ganas itu, yang terjadi pada tahun 2002, hilang sendiri di tahun 2003, tanpa perlu vaksin. Terlebih lagi bila kita percaya, pada apa yang telah saya tuliskan. Bahwa setelah melakukan investigasi terhadap puluhan jurnal internasional, maka saya mendapatkan kesimpulan bahwa COVID-19 setingkat dengan flu biasa.6
    Dengan dasar tulisan saya itu, bila ada orang yang meninggal dan swab tenggorokannya positif COVID-19, maka kematiannya bukan lah oleh karena COVID-19. Tapi oleh karena penyakit lainnya. Bila artikel saya itu diyakini kebenarannya, oleh rakyat dan pemerintah Indonesia, maka masalah COVID-19 selesai saat ini juga. Tak perlu lagi masker apalagi vaksinasi. Demikianlah surat saya. Semoga bermanfaat, bagi kita semua dan seluruh rakyat Indonesia.
    Wassalaamu’alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

dr. Tgk. H. Taufiq Muhibbuddin Waly Sp.PD
Tembusan:

  1. DPR RI
  2. Presiden RI.
  3. PBNU
  4. PP Muhammadiyah
  5. Habib Rizieq Syihab
  6. Ustadz Abdul Somad
  7. KH. Abdullah Gymnastiar
  8. Ustadz Adi Hidayat
  9. Buya Yahya
  10. Buya Gus Rizal
  11. Ustadz Salim Fillah
  12. Ustadz Felix Siaw
  13. Emha Ainun Najib
  14. Ustadz Haikal Hasan
  15. Ustadz Tengku Zulkarnain
  16. Ustadz Zulkifli Ali
  17. PBNU Tebu Ireng
  18. Amin Rais
  19. KH. Hasan Abdullah Sahal
  20. Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan
  21. Gubernur DI Aceh
  22. Gubernur Sumatra Barat
  23. Gubernur DKI Jakarta
  24. Gubernur Jawa Barat
  25. Gubernur Jawa Tengah
  26. Gubernur Jawa Timur
  27. Organisasi Kerjasama Negara Negara Islam

REFERENSI

  1. LGBT NO WAY, Taufiq Muhibbuddin Waly, (http://dhf-revolutionafankelijkheid.net/ category/intermezzo-lgbt-no-way)
  2. Waly TM. Vaksinasi DBD Untung atau Rugi?. Banda Aceh, Indonesia 14-16 Juni 2012.
    Prosseding Kongres Nasional PETRI XVIII. Medan : USU Press. 2012;144-150
  3. Waly TM. 2016. Virus Zika (Hantu Jadi-Jadian). Cirebon, Indonesia. 2016. Available from: http://dhf-revolutionafankelijkheid.net/category/artikel-44-virus-zika-hantu-jadi-jadian/
  4. Waly TM, Tambunan KL, Nelwan RHH, Herdiman, et all. The Role of Platelet Antibody and Bone Marrow in Adult Haemoragic Fever with Trombositopenia. Med J Indonesia. 1998;7:242-8.
  5. AGAMA COVID-19, VAKSIN DAGELAN DAN VAKSIN HORROR (Lawan Penjajahan COVID-19), Taufiq Muhibbuddin Waly, http://dhf-revolutionafankelijkheid.net/artikel-56-agama-covid-19-vaksin-dagelan-dan-vaksin-horror-lawan-penjajahan-covid-19/
  6. COVID-19 Azab Allooh Pada Dunia atau Dunia Mengazab Dirinya Sendiri (Suatu Diskusi Dengan Jurnal-Jurnal Internasional), Taufiq Muhibbuddin Waly, http://dhf-revolutionafankelijkheid.net/covid-19-azab-allooh-pada-dunia-atau-dunia-mengazab-dirinya-sendiri/