Apakah Perlu Kuburan-Kuburan dan Sumur-Sumur itu di Bongkar Kembali?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Apakah Perlu Kuburan-Kuburan dan Sumur-Sumur itu di Bongkar Kembali?

T. MUDWAL

                Polemik tentang PKI, merebak kembali, setelah tertidur 51 tahun. Para intelektual bangsa memberikan komentar-komentar, termasuk juga para jendral. Adalah menarik bagi saya, apa yang tertulis pada suatu media bahwa Luhut Pandjaitan, yang notabene adalah Menkopolhukam dan seorang letnan jendral angkatan darat (Purn) mengatakan setuju dengan pembongkaran kuburan-kuburan masal atau sumur-sumur tempat mayat-mayat dibuang pada saat pembersihan PKI. Karena beliau ingin mengatakan pada dunia, bahwa Indonesia tidak melakukan holocaust terhadap PKI. Dan itu hanya dapat di buktikan bila Indonesia berani membongkar kuburan-kuburan itu kembali. Beliau yakin, bahwa korban yang jatuh pada saat pembersihan PKI, hanyalah kecil saja. Di lain pihak jendral angkatan darat (Purn) Ryamizard Ryacudu menolak wacana pembongkaran kuburan-kuburan atau sumur-sumur itu. Karena hal itu bisa menimbulkan kemarahan atau perselisihan yang besar. Cukuplah sumur lubang buaya saja yang di bongkar.

                Tahun 1965, umur Ryamizard Ryacudu 15 tahun, Luhut Pandjaitan 18 tahun, Kivlan Zein 19 tahun, Gatot Nurmatyo 5 tahun, Agus Widjoyo bin Sutoyo Siswomiharjo 18 tahun, SBY 16 tahun, Megawati 18 tahun, dan Presiden Jokowi 4 tahun. Pada hemat saya umur-umur sebegitu seseorang belumlah dapat secara matang menilai bagaimana sepak terjang PKI pada saat itu dan sepak terjang orang-orang yang anti PKI. Taufik Ismail atau Gunawan Muhammad pada hemat saya adalah orang yang bisa menilai tentang sepak terjang PKI atau anti PKI pada saat itu. Taufik Ismail telah berumur 30 tahun, pada tahun 1965 itu dan Gunawan Muhammad 24 tahun. Suatu umur yang cukup matang untuk menilai keadaan pada saat itu, betapapun keduanya berbeda pendapat tentang perlu tidaknya kuburan atau sumur-sumur mayat itu dibongkar kembali. Selain kedua orang itu (Taufik Ismail dan Gunawan Muhammad) persepsi tentang PKI terbentuk dari pelajaran-pelajaran dan membaca dari berbagai media, termasuk saya sendiri (yang saat itu, baru berumur 4 tahun).

Ajaran komunisme, secara sederhananya adalah ajaran untuk membuat manusia hidup sejahtera dan adil. Untuk itu negara harus mengatur semuanya. Hanya kaum tertindaslah atau kaum proletar, yaitu para buruh, tani dan rakyat kebanyakan yang hidup dalam keadaan susah yang bisa mengatur negara itu. Keadilan adalah samanya hak dan kewajiban bagi seluruh rakyat. Semua harus diatasi secara riil dan kerja keras. Segala aturan yang tidak jelas, misalnya agama harus dimusnahkan karena mengganggu atau membuat rakyat menjadi lemah.

                Begitulah pengertian saya tentang ideologi komunisme. Suatu faham yang menarik bagi masyarakat terutama pada tempat-tempat dimana penjajahan masih terjadi, atau kemiskinan dan ketidakadilan merajalela. Bahkan faham inipun menarik para intelektual Islam seperti Tan Malaka, H. Misbach dan para anggota Syarikat Islam lainnya. Bagi mereka semua ajaran komunisme adalah benar kecuali tentang tidak perlunya bertuhan. Tan Malaka mengatakan, bahwa dia adalah seorang Islam dihadapan Tuhan sekaligus seorang komunis dihadapan manusia. Atau H. Misbach yang mengatakan dalam suatu khotbahnya tahun 1920 bahwa Islam dan komunisme adalah sama. Beliau wafat di Manokwari, Irian Jaya tahun 1926 akibat diasingkan oleh penjajah Belanda. Dr. Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa H. Misbach adalah ksatria sejati karena telah mengorbankan hampir seluruh hidupnya untuk perjuangan membela rakyat yang tertindas.

                Bagi saya Tan Malaka atau H. Misbach bukanlah seorang komunis. Karena faham komunis tetaplah harus berdasarkan pada kehidupan diatas dunia ini saja. Agama benar-benar adalah candu atau harapan kosong yang membahayakan kehidupan masyarakat. Kenduri atau selamatan dan pergi haji adalah suatu pemborosan. Sholat dan puasa hanya membuang-buang waktu saja dan membuat fisik menjadi lemah untuk bekerja. Dengan dasar itu suatu hal yang wajar, bila Tan Malaka dikeluarkan dari komunisme internasional, serta dibenci oleh Muso. Kemungkinan begitu pula yang akan terjadi pada H. Misbach bila dia berumur panjang. Faham komunis tentang kepercayaan pada Tuhan ini bisa dilihat pada DN Aidit. Dimana sebelum ditembak dia tidak meminta izin untuk berdoa, tetapi justru minta izin untuk berpidato menerangkan kehebatan paham komunis. Karena itulah satu hal yang wajar bila DN Aidit beserta PKI nya menginginkan gerakan umat Islam seperti HMI atau Masyumi dapat dilemahkan atau dibubarkan di negara Indonesia.

                Dengan demikian sesuai pengertian saya tentang paham komunis maka tidak ada keraguan saya  bahwa bila mereka berhasil menguasai Republik Indonesia ini maka pembantaian terhadap rakyat Indonesia terutama umat Islam akan mereka lakukan. Apa yang dikatakan Taufik Ismail bahwa paham komunis telah membantai 120 juta orang di 75 negara selama 74 tahun atau 4500 orang yang dibantai perhari, mungkin dapat bertambah menjadi 20-30 juta orang lagi, bila PKI berhasil berkuasa di Indonesia. DN Aidit dalam sebuah pidatonya pernah berkata: “Kalau saudara-saudara memang pemberani, lakukanlah tindakan-tindakan terhadap kapitalis-kapitalis birokrat, kepala-kepala desa, serta para pejabat yang merintangi engkau. Dalam suatu pidatonya yang lain DN Aidit pun pernah memerintahkan pada para mahasiswa yang tergabung dalam CGMI untuk memakai sarung saja, bila takut untuk membubarkan HMI. Dari ucapan-ucapan DN Aidit itu kita lihat bahwa belum berkuasa saja, PKI telah begitu ganasnya. Apalagi bila mereka berhasil berkuasa.

                Dengan demikian dibantai atau membantai adalah Rule of The Game bagi PKI dan anti PKI. Rule of The Game yang ditawarkan oleh pihak komunis terlebih dahulu, untuk kemudian menjadi satu hal  suka atau tidak suka diterima oleh pihak pihak yang anti komunis atau anti PKI. Karena itu tidak perlu permintaan maaf pada PKI, tidak perlu kuburan atau sumur-sumur mayat itu dibongkar kembali. Dengan alasan Rule of The Game pula lah, rekonsiliasi misalnya saling memaafkan tidak perlu dilakukan. Satu hal yang sudah pasti tidak akan dilakukan oleh PKI bila mereka berhasil berkuasa dan melakukan pembantaian-pembantaian. Karena mereka lah pencipta Rule of The Game itu. Apabila ada orang yang terbantai, padahal tidak ada hubungannya dengan PKI, maka itu adalah termasuk Rule of The Game atau suatu keniscayaan yang sangat mungkin terjadi. Bila mereka berkuasa pun, mungkin banyak pula rakyat Indonesia yang tidak anti pati PKI, ikut terbantai juga.

                Kesimpulannya, kita seyogyanya, tidak usah takut dengan tuduhan holocaust itu. Karena semua  yang terjadi adalah akibat Rule of The Game dari PKI yang terpaksa di setujui oleh anti PKI. Umat Islam akan menjadi kelompok utama  yang akan dibantai oleh PKI bila mereka berkuasa. Karena bagi PKI ajaran Islam menyebabkan mental yang lemah, ibadah umat Islam banyak membuang-buang waktu, dan pemborosan. Sedangkan umat lain tidak seperti itu. Karena itu logis bila Amir Syarifudin lebih cocok untuk menjadi Kristen ketimbang tetap beragama Islam. Karena dengan beragama Kristen dia akan lebih bebas untuk menjalankan ide-ide revolusioner dari komunisme. Alasan itu pula kemungkinan sebagai penyebab banyaknya orang-orang PKI yang masuk Kristen setelah tahun-tahun peristiwa pembersihan PKI tersebut. Islam jelas-jelas membolehkan  adanya hak individual atau bahkan tanah wakaf. PKI menolak itu semua. Perjuangan kelas dari kaum proletar hanyalah suatu tipu daya untuk terwujudnya suatu kelas borjuis baru. Kelas borjuis yang ditunjukkan oleh dinasti Kim Il Sung, para pemimpin partai komunis Cina dan para ditaktor Soviet dahulu. Pada Islam bukanlah perjuangan kelas yang ditampilkan kedepan, tetapi perjuangan membela keadilan dan kebenaran. Membela penguasa, bila dia adil dan benar, dan membela rakyat bila mereka terdzalimi oleh penguasa. Perjuangan membela keadilan dan kebenaran itu, juga harus tetap memakai norma-norma keagamaan. PKI menolak segala macam norma, terlebih lagi norma keagamaan dalam mencapai segala tujuan.

                Apa yang terjadi pada 1948 dan 1965, adalah jelas suatu percobaan kudeta. Karena begitulah motto dari paham komunis. Menyatakan bahwa peristiwa Madiun, peristiwa kecil saja yang di respon berlebihan oleh Bung Hatta, seperti kata DN Aidit, adalah suatu retorika Aidit saja. Karena jelas Soekarno dalam pidato radio 19 September 1948 mengatakan pada rakyat Indonesia, bahwa Muso dengan PKI nya telah melakukan kudeta terhadap pemerintahan Republik Indonesia yang sah. Karena itu dia bertanya pada rakyat Indonesia pilih Soekarno – Hatta ataukah pilih Muso. Begitu juga dengan kudeta tahun 1965 itu. Yang sudah pasti bagi kita semua, pembunuhan para jendral oleh PKI adalah awal dari segala tragedi itu. Tentang keterlibatan Soeharto dan sebagainya dan sebagainya adalah cerita-cerita selanjutnya, yang tidak jelas kebenarannya.

                Pada akhirnya kita tidak ingin kudeta itu terulang kembali. Kita tidak ingin saling membantai itu terjadi kembali. PKI No Way.

 

Comments are closed.