BENDERA BERWARNA HITAM DAN KALIMAT TAUHID BERWARNA PUTIH DENGAN KHAT TSULUTS DIATASNYA ADALAH BENDERA UMAT ISLAM SEDUNIA (SUATU PROKLAMASI)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bendera Berwarna Hitam Dan Kalimat Tauhid Berwarna Putih Dengan Khat Tsuluts Diatasnya Adalah Bendera Umat Islam Sedunia

( Suatu Proklamasi )

 T. MUDWAL

 

Baru saja umat Islam Indonesia, bahkan dunia, dikejutkan oleh pembakaran bendera berwarna hitam dan bertuliskan kalimat tauhid berwarna putih, yang dilakukan oleh suatu organisasi pemuda, onderbouw organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Umat Islam Indonesia bereaksi keras terhadap hal tersebut. Karena bagi mereka oknum organisasi pemuda yang melakukan pembakaran itu telah melecehkan simbol kebanggaan umat Islam. Bagi mereka bendera berwarna hitam dengan bertuliskan kalimat tauhid berwarna putih adalah bendera atau panji perang dari Rasulullooh. Bahkan bagi mayoritas umat Islam tanpa menyimbolkan bendera Rasulullooh pun atau hanya kalimat tauhid saja, wajib bagi umat Islam untuk menghormatinya. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa pembakaran bendera itu dianggap suatu pelecehan berat terhadap Rasulullooh dan umat Islam sedunia.

Persoalan tersebut sampai saat ini belum selesai. Karena pemimpin organisasi pemuda itu, menolak untuk meminta maaf. Menolak meminta maaf dalam arti, telah melakukan pelecehan terhadap simbol kebanggaan umat Islam itu. Karena menurut dia, yang di bakar oleh anak buahnya adalah bendera organisasi terlarang di Indonesia, yang bernama Hizbut Tahrir Indonesia ( HTI ). Organisasi yang menghendaki Indonesia menjadi bagian dari suatu sistem ke khalifahan Islam dunia.

Adalah menarik, bahwa pemimpin organisasi pemuda tersebut, tetap bersikeras menyatakan bahwa itu adalah bendera HTI, betapa pun lambang HTI, atau tulisan HTI tidak terdapat di bendera tersebut.

Dia memang meminta maaf, pada umat Islam yang marah itu karena perbuatan anak buah nya menimbulkan kegaduhan atau kegelisahan pada umat Islam Indonesia. Atau bila dijabarkan lebih lanjut, pembakaran bendera hitam dengan kalimat tauhid berwarna putih itu, sebaiknya jangan diketahui orang banyak. Bakarlah di tempat yang tersembunyi atau serahkan bendera itu pada polisi.

Pola pikir seperti itu tidak diterima umat Islam yang marah tersebut. Mereka mengajukan tuntutan hukum pada ketua organisasi pemuda itu. Karena telah melakukan pelecehan terhadap simbol kebanggaan umat Islam berdasarkan keyakinan mereka. Yang menariknya lagi, polisi RI tampaknya berpihak pada para pembakar bendera itu. Para pembakar bendera itu semuanya dibebaskan oleh polisi, karena dianggap tidak mempunyai niat jahat.

Ulama para pembela pembakaran bendera dan penolak pembakaran pun saling beradu pendapat tentang masalah bendera hitam dengan kalimat tauhid berwarna putih itu. Pembela pembakaran menolak mengakui telah melakukan pelecehan terhadap simbol kebanggaan umat Islam itu. Mereka mengatakan bahwa hadist yang menyatakan bendera Rasulullooh berwarna hitam dan bertuliskan kalimat tauhid diatasnya yang berwarna putih adalah hadist yang dhoif. Sedangkan ulama yang menolak pembakaran menyatakan bahwa bendera atau panji perang Rasulullooh yang diikatkan di tombak –  tombak perang adalah benar berwarna hitam. Begitu juga dengan kalimat tauhid yang berwarna putih diatasnya. Tanpa keadaan perang, bendera Rasulullooh berwarna putih dan kalimat tauhid diatasnya berwarna hitam. Pendapat itu didasarkan pada keyakinan mereka bahwa hadist – hadist yang menyatakan kedua hal tersebut diatas adalah hadist yang sahih. Bahkan pada keadaan yang dikatakan dhoif pun misalnya adanya penulisan kalimat tauhid diatas bendera tersebut, masih ada jalan hadist sahih lain yang menunjukan bahwa memang benar adanya tulisan kalimat tauhid diatas bendera tersebut.

Persoalan menjadi semakin meluas dengan adu hukum antara ulama pembela pembakaran dan penolak pembakaran. Yaitu dalam masalah apakah boleh menuliskan kalimat tauhid diatas kain atau bendera. Ulama pembela pembakaran mengklaim, bahwa makruh hukumnya atau bahkan bisa jatuh ke haram, bila menuliskan kalimat tauhid diatas bendera atau diatas apapun juga. Hukum itu bukan hanya dituliskan oleh imam 4 mazhab, Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi, tetapi juga oleh Ibnu Taymiah (seorang ulama besar yang menjadi rujukan organisasi Islam lainya di Indonesia bahkan dunia).

Sedangkan ulama penolak pembakaran bendera, mengatakan bahwa kalimat tauhid boleh dituliskan dimana saja, dengan syarat mampu menjaga kesuciannya.

Kesimpulan :

Terlihat dari tulisan diatas bahwa sebenarnya terdapat dua masalah yaitu :

  1. Apakah bendera hitam dengan kalimat tauhid berwarna putih diatasnya itu bendera Rasulullooh atau bukan ?.
  2. Apakah kalimat tauhid boleh dituliskan ditas kain, topi, dinding masjid, lukisan yang ditempel di dinding rumah, cincin ataukah tidak.

Artikel ini sebenarnya ingin fokus pada masalah pertama. Tetapi karena berhubungan, dituliskan juga pendapat untuk masakah kedua.

Keputusan masalah pertama

Bahwa dapat dipastikan memang ada bendera atau panji perang yang diikatkan di tombak para pejuang Islam pada saat berperang. Karena panji perang atau bendera perang berdasarkan peraturan perang pada saat itu, menentukan kalah atau menang nya suatu pertempuran. Dan yang memegang bendera perang, adalah panglima perang dari pasukan itu. Kedahsyatan mempertahankan bendera perang itu, dapat kita baca dalam perang Mu’tah. Dimana tiga orang panglima perang umat Islam secara heroik harus tewas bergantian, karena mempertahankan bendera perang tersebut. Sebelum akhirnya bendera perang itu dipegang oleh Khalid bin Walid, sang penakluk Romawi tersebut.

Dengan dasar bahwa bendera perang pasti ada dan melihat kenyataan bahwa mayoritas umat Islam sedunia meyakini bendera perang Rasulullooh atau Ar-Royah berwarna hitam dengan tulisan kalimat tauhid berwarna putih, maka adalah wajar bila saya memproklamasikan keseluruh dunia, bahwa bendera umat Islam sedunia, mulai saat ini adalah bendera berwarna hitam dengan kalimat tauhid khat tsuluts yang berwarna putih diatasnya ( seperti bendera yang dibakar oleh oknum dari organisasi pemuda onderbouw organisasi Islam terbesar di Indonesia ). Gaya huruf tsuluts lebih dipilih ketimbang gaya huruf kufi karena keindahannya.

Dipilih bendera umat Islam yang berpatokan Ar – Royah, ( bendera saat Rosulullooh berjuang ) karena memang telah tiba saatnya umat Islam sedunia untuk berjuang. Berjuang untuk menuntut keadilan diseluruh dunia ini. Keadilan itu bukan hanya untuk umat Islam saja, tetapi juga untuk umat beragama lainya. Bahkan tanpa agama sekalipun.

Misalnya untuk Indonesia, adalah wajar bagi umat Islam untuk menuntut diberlakukannya syariat Islam, bila suatu propinsi atau kabupaten, dimana umat Islam adalah mayoritas di daerah tersebut, dan mayoritas umat Islam di daerah tersebut menginginkan berlakunya syariat Islam. Atau miminal sekali, pemerintah RI merubah libur dihari Minggu menjadi hari Jumat. Karena secara azas keadilan, libur dihari Minggu tidaklah adil bagi umat Islam. Umat Nasrani dapat melakukan kebaktian jam 05 sore atau 07 malam bahkan jam 09 malam setelah pulang kerja dihari minggu ( WIB ). Sedangkan umat Islam, hanya dapat melakukan ibadah shalat jumat disekitar jam 11.30 siang sampai jam 01 siang saja ( WIB ). Umat Islam jauh lebih banyak di republik ini ketimbang umat beragama lainnya. Tetapi umat Islam mengalami kesulitan waktu untuk melakukan ibadah shalat Jumat. Karena hari Jumat bukanlah hari libur.

Secara perhitungan ekonomipun libur dihari Jumat akan lebih menguntungkan karena mayoritas pekerja adalah umat Islam. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang.

Dengan diproklamasikan adanya bendera berwarna hitam dan kalimat tauhid berwarna putih serta gaya huruf tsuluts maka diminta pada seluruh pemerintahan di dunia untuk membolehkan bendera umat Islam itu berkibar di kantor-kantor umat Islam, selain bendera nasional masing-masing negara.

Pemerintah suatu negara boleh saja memeriksa seseorang atau organisasi yang mengibarkan bendera Islam dan bahkan boleh menangkapnya, bila seseorang atau organisasi yang mengibarkan bendera tersebut terbukti membahayakan negara tempat tinggal orang / organisasi tersebut. Tetapi bendera umat Islam, diminta untuk diperlakukan secara terhormat. Dan bila orang  / organisasi tersebut terbukti tidak membahayakan negara tempat tinggal orang / organisasi itu maka sudah selayaknya orang / organisasi terbut dibebaskan dan diperbolehkan mengibarkan bendera umat Islam kembali.

Keputusan Masalah Kedua ( Masalah penulisan kalimat tauhid )

               Jelas secara akal sehat hukum makruh bahkan haram untuk menuliskan kalimat tauhid dimana saja adalah sangat naïf. Secara akal sehat kalimat tauhid boleh dituliskan dimana saja, seperti di bendera, dinding masjid, lukisan, topi, cincin, hiasan di dinding rumah dsb. Asalkan diyakini bahwa kesucian kalimat tauhid tersebut dapat dijaga. Bila kita ikuti secara membabi buta pendapat jumhur para ulama seperti yang dikatakan para pembela pembakaran, maka seluruh kaligrafi dalam masjid, atau lukisan kalimat tauhid yang di tempel di dinding rumah kita, semuanya harus dihancurkan. Saudi Arabia harus merubah benderanya. Bagi orang yang berakal sehat, penghancuran seperti itu adalah suatu kebodohan yang sangat absurd.

Pada akhirnya, saya berdo’a kepada Allooh SWT, semoga Dia Allooh meninggikan kembali Islam dan umat Islam seperti zaman yang dahulu.

Aamiin YRA