Cirebon Ibu Kota Republik Indonesia

Banjir yang melanda Jakarta tahun ini sangatlah hebat. Banjir yang dibicarakan masyarakat Indonesia maupun internasional. Banjir yang memalukan kita semua, terutama Presiden RI. Rasa malu yang pernah juga menghinggapi saya, ketika rumah saya kebanjiran, sedangkan rumah teman-teman saya tidak. Saya tinggal dahulu di Jakarta pada daerah yang dinamakan ‘kopro banjir’ atau Tanjung Duren pada saat ini. Masalahnya adalah kapan rasa malu ini berakhir atau kapan Jakarta yang ibu kota Republik ini bebas dari banjir? Apakah bisa Jakarta ini bebas dari banjir jika diadakan perbaikan besar-besaran,betapapun harus menghabiskan uang rakyat puluhan atau ratusan triliun rupiah. Apakah itu bukan merupakan tindakan yang sia-sia? Bisakah rakyat Indonesia dari Sabang sampai Marauke ikhlas bila uangnya di gunakan untuk suatu hal yang sia-sia?

Saya sendiri berkeyakinan bahwa, kota Jakarta tidak bisa dipakai lagi untuk ditempati oleh belasan juta manusia ataupun untuk menjadi ibu kota Republik Indonesia. Keyakinan yang kemungkinan besar akan diamini oleh pakar kelautan,ilmu tanah,ilmu cuaca,ilmu tata ruang kota dan ilmu ekonomi dunia (bukan hanya dari Indonesia). Bahkan bila ditambah satu pakar lagi yaitu pakar ilmu langit/ahli nujum/ahli ramal dunia (bukan saja Indonesia), saya tetap yakin bahwa kemungkinan besar dari mereka akan mempunyai pendapat yang sama dengan saya. Dalam arti takdir Allah yang buruk untuk kota Jakarta pasti akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Dengan alasan itu saya mengusulkan agar ibu kota Republik Indonesia ini dipindahkan ke kota lain. Saya mengusulkan Cirebon seluruhnya (kotamadya dan kabupaten) dapat dijadikan ibu kota Republik Indonesia, pengganti dari Jakarta. Cirebon merupakan daerah yang mempunyai kriteria-kriteria ideal untuk menjadi ibu kota Republik Indonesia.

A. Kriteria Alam

  1. Ibu kota seharusnya letaknya di tengah, dalam arti bukan ditengah secara simetris seperti sebuah titik ditengah lingkaran. Yang dimaksud adalah ditengah keramaian atau kepadatan penduduk agar dapat mengakomodir kebutuhun sebagian besar penduduknya. Dengan alasan ini jelas ibu kota Republik Indonesia letaknya harus di pulau Jawa,karena penduduknya terbanyak di pulau Jawa. Banyak negeri yang tidak berani memindahkan ibu kota jauh dari keramaian karena berisiko tidak efisiennya roda pemerintahan. Menjadikan ibu kota Indonesia berada di Palangkaraya,suatu kota yang jauh dari keramaian (di luar pulau jawa) akan menyebabkan roda pemerintahan menjadi kurang efektif dan efisien. Oleh karena itu pemindahan ibu kota tetaplah harus dekat dengan kota terbesar di negara itu. Contohnya adalah Australia yang memindahkan ibu kotanya dari Sydney ke Canberra suatu kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari Sydney. Kota Sydney adalah kota terbesar di Australia. Jarak antara Sydney dan Canberra ±250-500 km (hampir sama dengan jarak Jakarta-Cirebon). Contoh lain adalah Amerika Serikat yang memindahkan ibu kotanya ke Washington suatu kota yang letaknya tidak jauh dari kota terbesar di negara itu (New York).
  2. Letak secara geografis dan kependudukan harus strategis dalam arti mudah menjangkau ke segala jurusan.Cirebon memenuhi kriteria ini karena Cirebon berada ditengah, sehingga mudah untuk menjangkau Jakarta,Bandung,Semarang dan Jogjakarta. Kota-kota tersebut termasuk kota-kota terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat padat. Hal ini akan memudahkan sebagian besar masyarakat indonesia untuk berhubungan dengan pemerintahan pusat. Jonggol tidak sestrategis Cirebon dalam masalah letak.
  3. Memiliki lanskap yang bagus dengan tanah datar yang luas dan subur. Adalah tidak mungkin atau sulit membangun sebuah ibu kota yang di dalamnya terdapat gedung-gedung pemerintahan yang tinggi,jalan-jalan raya yang lebar,bandara udara,stasiun dan lain-lain bila tanahnya bergelombang dan berbukit-bukit. Cirebon mempunyai tanah datar luas yang terhampar sampai dengan Indramayu dan Brebes.
  4. Negeri kepulauan seharusnya ibu kotanya terletak di pantai,misalnya Philpina,Jepang dan lain-lain. Negeri daratan biasanya tidak masalah bila ibu kota jauh dari pantai misalnya India,Rusia,dll. Indonesia merupakan negeri kepulauan karena itu seharusnya letak ibu kota mestinya tidak jauh dari pantai. Cirebon terletak di tepi pantai sehingga cocok untuk dijadikan ibu kota. Dengan demikian hubungan kelautan dengan seluruh negeri akan menjadi mudah. Pelabuhan Cirebon pun siap untuk dirubah menjadi jauh lebih baik ketimbang dahulu pada saat Cheng-ho mendarat di Cirebon.
  5. Tidak jauh dari ibu kota seharusnya ada tempat peristirahatan yang memadai,panorama indah dan alam yang sejuk sehingga dapat menjadi tempat melepas lelah dan rekreasi seperti daerah puncak. Dekat cirebon terdapat daerah kuningan dan majalengka selatan yang memadai untuk tempat-tempat peristirahatan

A. Kriteria Budaya

Ibu kota Republik Indonesia sebaiknya dihuni oleh penduduk dari berbagai macam etnis. Sehingga bisa menjadi contoh dari kota-kota lainnya di Indonesia. Dua suku bangsa besar Indonesia Jawa dan Sunda berada di Cirebon dalam keadaan rukun dan damai sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan akhirnya terbentuk bahasa persatuan diantara mereka, yang dinamakan bahasa Cirebon. Suku bangsa Tionghoa pun mempunyai tempat terhormat pada hati orang-orang Cirebon. Sebab salah satu dari istri Sunan Gunung Jati berasal dari suku Tionghoa. Kuburan orang-orang Tionghoa pun, banyak terdapat di sekitar komplek makam Sunan Gunung jati. Terbiasanya orang Cirebon dengan perbedaan membuat suku-suku lain di Indonesia, merasa nyaman tinggal di Cirebon. Untuk suku Aceh, tidak ada tempat yang paling istimewa di luar Aceh kecuali Cirebon. Sebab jelas tertulis pada silsilah raja-raja Cirebon yang bisa kita baca di keraton Kasepuhan, bahwa seluruh raja Cirebon merupakan keturunan dari Faletehan atau Fatahillah atau Ki Bagus Pase. Pase disini jelas adalah Samudera Pasai yang merupakan bagian dari pada Aceh.

C. Kriteria Metafisika dan Sejarah

Cirebon adalah satu-satunya kota di Indonesia yang di ikhlaskan oleh seluruh rakyat Indonesia untuk menyandang gelar ‘Kota Wali’ (betapapun juga makam para wali Allah banyak tersebar di seluruh Indonesia). Ini bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi memang telah begitulah takdir Allah sejak awalnya (zaman azal/lauhil mahfuz). Bukan pula suatu kebetulan, bila penulis dari tulisan ini, mempunyai nama keturunan ‘Waly’ (Wali dalam tulisan bahasa Indonesia). Sebuah nama yang Insya Allah dihormati di seluruh tanah Aceh, Indonesia dan dunia Internasional.
Keberanian rakyat Cirebon dalam membela kebenaran,mungkin inilah yang menyebabkan Allah memberikan tempat yang istimewa pada kota Cirebon. Keberanian seperti ini diperlukan untuk tetap menjaga ibu kota Republik berada dalam lindungan Allah, Penguasa Alam Semesta. Penyerangan rakyat Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah/Faletehan/Ki Bagus Pase kepada Portugis tahun 1527, (dimana Portugis pada saat itu adalah salah satu super power dunia selain kerajaan Spanyol) jelas-jelas menunjukkan jiwa yang berani itu. Kekalahan Portugis terhadap serangn Kerajaan Cirebon secara hakikat, sebenarnya telah mengangkat harkat dan martabat bangsa Asia/kulit berwarna terhadap bangsa Eropa/kulit putih. Suatu prestasi yang baru disamai oleh Jepang ratusan tahun kemudian, ketika mengalahkan Rusia dalam perang Tjusima (1904-1905). Hikmah seperti ini tidak pernah kita baca dalam buku sejarah manapun juga.

Keberanian rakyat Cirebon dan kecintaannya kepada Indonesia terlihat kembali ketika para pemuda Cirebon menyatakan kemerdekaan Indonesia dua hari lebih cepat dari proklamasi yang dibacakan Soekarno (15 Agustus 1945). Apabila ini benar maka hal tersebut menunjukkan hebatnya informasi yang sampai ke kota Cirebon dan kekuatan analisis daripada pemuda Cirebon. Hiroshima dan Nagasaki baru di bom oleh sekutu tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Sedangkan pidato penyerahan Jepang kepada sekutu,baru dibacakan kaisar Hirohito pada tanggal 15 Agustus 1945 (tanggal yang sama dengan proklamasi Indonesia oleh pemuda Cirebon). Sekali lagi bila fakta ini benar maka rakyat Cirebon pada saat itu menunjukkan pada kita semua keberanian dan kecintaan pada Indonesia yaang berada satu tingkat atau beberapa tingkat diatas rakyat daerah-daerh lainnya di Indonesia. Hal ini pun menunjukkn betapa sangat strategisnya kota Cirebon.

Dengan catatan-catatan diatas tidak ada keraguan saya bahwa kota Cirebon adalah kota yang dirahmati Allah sejak zaman azal dan Insya Allah sampai dengan hari kiamat tiba. Gunung api Ciremai (yang menurut saya merupakan gunung yang paling gagah secara arsitektur di P. Jawa itu) tetap akan tenang selamanya. Begitu pula dengan laut Jawa. Kemungkinan bahwa Allah Penguasa Alam Semesta ini menghendaki kembalinya Jakarta dalam kontrol Cirebon, perlu kita renungkan bersama. Sebab bila Dia telah berkehendak, maka Dia tidak peduli atas apapun juga yang terjadi.

Pada akhirnya, bila kita setuju dengan apa yang saya katakan dari awal tulisan ini, maka planning kota Cirebon yang akan menjadi ibu kota RI ini, harus secepatnya dibuat dengan perhitungan sampai dengan 50 tahun kedepan. Bila ini kita abaikan, maka dalam tempo tidak terlalu lama lagi daerah/kota Cirebon kemungkinan akan menjadi daerah yang kacau balau seperti kota Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Wassalam

H. Taufiq Muhibuddin Waly, Sp.PD

Comments are closed.