Dunia Ini Adalah Cluster Besar Untuk COVID-19

Dunia Ini Adalah Cluster Besar Untuk COVID-19

Raja Waly

Saat ini hampir seluruh negara di dunia berlomba-lomba untuk melakukan tes dan tes dan tes pada penduduknya. Dan kemudian mengisolasi pada mereka yang tesnya positif. Apakah hal tersebut dapat mengalahkan atau memenangkan perang terhadap COVID-19? Kita lihat misalnya 5 negara dengan penduduk terbanyak sedunia (di luar RRC). Karena RRC diyakini tidak memberikan laporan yang dapat dipercaya. 5 negara terbanyak penduduknya itu adalah:

  1. India : 1.357.530.000
  2. AS : 333.026.000
  3. Indonesia : 268.074.600
  4. Pakistan : 219.199.000
  5. Brazil : 212.898.000

Bila kita ambil Amerika Serikat, sebagai negara terkaya dari 5 negara tersebut, bahkan terkaya di dunia, maka kemampuan negara tersebut sampai saat ini(11/4/2020), untuk melakukan tes COVID-19 pada penduduknya hanyalah 2.538.888 (0,76% dari total penduduk AS). Bagaimana dengan 99,24% yang belum dites itu? Berapa banyak yang positif?

Pasien positif COVID-19 (RT-PCR positif), dapat tanpa gejala. Dan mereka  ini bila berbicara cukup keras dengan seseorang, selama 5 menit dapat mengeluarkan sebanyak 3000 droplet (setara dengan sekali batuk dari orang dengan COVID-19 positif atau COVID-19 dengan gejala batuk).

Dengan dasar di atas, jelas AS tidak akan mampu untuk memeriksa penduduknya secepat mungkin dan mengisolasi semua penduduknya yang positif. Mencari adanya PDP dari ratusan juta penduduk AS adalah suatu hal yang mustahil. Dengan demikian bila ingin masalah COVID-19 ini cepat selesai, lockdown total harus dilakukan di seluruh AS. Walaupun demikian bila AS melakukan lockdown total tetapi Meksiko belum, maka COVID-19 bisa masuk lagi ke AS. Begitu juga dengan Italia. Walaupun Italia mengalami penurunan kasus yang signifikan setelah lockdown total, tapi karena Austria dan Slovenia, belum melakukan lockdown, maka Italia bisa mendapatkan COVID-19 lagi dari Austria dan Slovenia itu. Karena itu saya setuju dengan pendapat dokter Malaysia, yang mengatakan bahwa Indonesia adalah suatu cluster besar bagi Malaysia yang saat ini tengah melakukan lockdown.

Hal lain yang mempermudah merajalelanya virus Cina ini adalah masker. Hanya masker P100 yang mampu menahan virus Korona secara total (ukuran pori-porinya 0,02 mikrometer), dimana saat ini dipastikan banyak orang yang belum tau bagaimana cara mendapatkan masker tersebut. N95 yang mempunyai pori-pori 0,3 mikrometer atau 300 nanometer, hanya dapat menahan  virus yang  berukuran lebih dari 5 mikron (makro droplet). Yaitu ketika pasien COVID-19 itu bersin atau batuk. Tetapi penyebaran secara airborne dari mikro droplet terlebih lagi penyebaran secara aerosol dari partikel-partikel virus yang berada dimana-mana, tidak dapat ditahan oleh masker N95. Padahal masker tersebut harganya mahal dan saat ini sulit dicari. Keadaan dunia saat ini, jangankan masker N95, masker bedah biasapun masih kekurangan. Virus Korona berukuran 0,12 mikrometer, sedangkan masker bedah mempunyai pori-pori 2 mikrometer.

Dengan dasar apa yang telah dituliskan di atas, maka jalan satu-satunya untuk mempercepat selesainya pandemi COVID-19 ini adalah melakukan lockdown total secara serempak seluruh negara di dunia, seperti di Italia.

Pelajaran yang bisa diambil dari virus Korona Cina:

  1. Saat bertaubat atau masuk Islam telah tiba pada semua orang yang berumur 70 tahun ke atas. Sebab pada usia 70 tahun ke atas, kematian akibat virus Corona Cina rata-rata di atas 4%. Lebih tinggi dari rata-rata kematian di dunia yaitu 4% dari total kasus COVID-19 sedunia. Mereka orang tua itu seharusnya diberikan kesempatan untuk merenungkan kebenaran. Yaitu dengan cara dipisahkan dari orang-orang muda. Sehingga mereka tidak mudah terinfeksi bila dilakukan lockdown total. Tetapi berdasarkan apa yang saat ini kita lihat, dunia ini tampaknya mengikhlaskan orang-orang tua itu untuk cepat pergi ke langit.
  2. Harus berhati-hati pada negara Cina.

Keterlambatan pemberitahuan adanya penyakit COVID-19, menyebabkan COVID-19 ini menyebar ke seluruh dunia. Hal itu menunjukkan sifat oportunis negara Cina. Yang penting beruntung walaupun negara lain buntung.

  • Stop rekayasa genetik makhluk hidup yang membahayakan nyawa manusia. Jangan ada lagi kebocoran laboratorium yang berbahaya.
  • Ikuti tuntunan ajaran agama Islam dalam soal makanan. Jangan makan kelelawar, ular, trenggiling, babi, dsb. Kita tidak  ingin dunia ini mengalami lagi pandemi flu babi dalam tingkat yang lebih dahsyat.
  • Jangan hinakan lagi para wanita Islam yang bercadar.
  • Teladanilah agama Islam. Karena agama Islam mengajarkan untuk sering-sering membasuh muka, tangan, kaki, rambut, telinga dan hidung. Minimal 5 kali sehari.
  • Sering merenung atau melakukan social distancing untuk mendapatkan kebenaran-kebenaran tertinggi.

Semoga bermanfaat.