ID ALLOOH ADALAH PENYEBAB IBRAHIM MENCARI TUHAN

ID ALLOOH ADALAH PENYEBAB IBRAHIM MENCARI TUHAN

T. MUDWAL

Sejak muda, sebelum diangkat menjadi Rasul, Ibrahim sudah menentang perbuatan ayah dan kaumnya yang menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan. Karena berhala adalah benda mati ciptaan manusia yang tidak dapat berbuat apa-apa.

Proses pencarian terus berlanjut dengan menjadikan bintang sebagai Tuhan. Namun ketika bintang menghilang dan digantikan bulan, maka bulanlah yang dianggap sebagai Tuhan. Saat bulan menghilang dan digantikan matahari, maka dia berkeyakinan bahwa matahari itulah Tuhan yang sebenarnya. Tetapi ketika matahari pun tenggelam maka dia berkesimpulan bahwa sepatutnya yang harus disembah adalah pencipta dari bintang, bulan dan matahari. Dia itulah Tuhan yang harus disembah.

Kisah Ibrahim dalam mencari Tuhan itu jelas menunjukkan adanya dorongan dari dalam jiwa manusia untuk mencari penguasa jiwa yang sebenarnya. Atau tunduknya ego manusia terhadap penguasa dari luar. itulah yang saya sebut dengan id Allooh. Trauma kelahiran adalah penyebab adanya id Allooh itu. Adanya trauma kelahiran dan tunduknya jiwa manusia terhadap kekuatan luar dapat terlihat pada surat Al-A’raf 172-173. Dorongan dari id Allooh untuk mencari faktor luar yang menyebabkan tunduknya ego manusia tersebut pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa penguasa luar yang harus di sembah itu bernama  Allooh (nama Tuhan seperti yang ditulis pada Al-Qur`an). Itu hanya dapat terjadi bila orang tersebut jujur untuk terus mengikuti dorongan dari id Allooh-nya.

 

Perhatikan firman Allah berikut :

(74). Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

(75). Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

(76). Ketika malam telah menjadi gelap,dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata,”Aku tidak suka yang terbenam.”

(77). Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata,”Inilah tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh,jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

(78). Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

(79). Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

(QS.Al-An’aam : 74-79).

Kisah Ibrahim AS,yang dikombinasi dengan adanya trauma kelahiran seperti yang dinyatakan secara tersirat pada surat Al A’raf 172-173, menunjukkan bahwa adanya id Allooh atau keinginan untuk mencari penguasa jiwa manusia atau kebenaran tertinggi adalah benar adanya. Pelaksanaan dorongan id Allooh ini, bagi orang yg berakal,akan sampai pada kesimpulan bahwa zat yang perlu disembah itu,atau penguasa jiwa manusia itu atau kebenaran tertinggi itu, harus zat yang tidak terlihat,tapi mempunyai kesempurnaan dalam segala hal. Dialah yang menamakan dirinya Allooh, menurut Al Qur’an.

Itulah koreksi mendasar dari teori Freud tentang jiwa manusia yg terdiri dari id, ego dan superego. Selain id nafsu, adapula id Allooh

QS Al-A’raf ayat 172-173:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

Apa yang saya tulis ini adalah suatu koreksi terhadap teori Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari id (nafsu), ego dan superego. Padahal  id manusia bukan hanya nafsu saja, tetapi ada juga id Allooh atau borongan untuk mencari Tuhan yang sebenarnya.