Islam dan Demokrasi Bagian I

Bismillaahirrohmaanirrohiim,
ISLAM DAN DEMOKRASI
(Umat Islam Dan Kehidupan Akhir Zaman)
Oleh T.MUDWAL

Ali Imran: 7
Dialah yang menurunkan kitab kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang mukhamat, itulah pokok-pokok kitab dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata : “Kami beriman kepada-Nya, semuanya dari sisi Tuhan kami. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang cerdas .

Al-Hajj : 8-9
Dan diantara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang bersinar, sambil memalingkan lambungnya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Dia mendapat kehinaan di dunia, dan pada hari kiamat Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar.

Yunus : 99-100
Dan jika Tuhanmu mengkhendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya.  Tetapi apakah kamu hendak memaksa manusia agar menjadi orang-orang yang beriman ?
Dan tidak seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak mau berpikir.

Al-An’am : 121
Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik.

Bagi intelektual dalam arti tertinggi (cerdas, berilmu tinggi, merdeka dan jujur) maka Al-Qur’an adalah sesuatu yang dahsyat.Dahsyat, karena Al-qur’an benar-benar telah menundukkan mereka. Di mana konsekuensi dari itu semua pada prinsipnya  adalah mengutamakan akhirat, ketimbang dunia dan segala isinya. Termasuk di situ dirinya sendiri dan keluarganya.
Itulah Islam. Itulah ajaran yang pada saat ini sangat dibenci oleh mayoritas manusia di dunia. Mayoritas manusia di dunia ingin supaya dunia ini lebih utama ketimbang akhirat. Bahkan ingin supaya lagu “Imagine” dari John Lennon dapat diterapkan di atas muka bumi ini. Tidak ada agama, tidak ada negara, tidak ada keserakahan. Semua hidup untuk kegembiraan hari ini atau kegembiraan selama hidup di atas dunia ini. Atau dapat juga dipersepsikan bila ada agama, maka semua agama sama benarnya. Semua masuk surga. Atau boleh ada negara-negara, tetapi negara-negara itu hidup dalam damai. Dan untuk mewujudkan itu maka negara-negara itu harus berada dalam satu naungan (PBB). Dan supaya semua berjalan lancar harus ada imam yang mengaturnya, itulah AS, Prancis, Inggris, Cina dan Rusia. Dan oleh mereka diciptakanlah segala aturan, supaya manusia di dunia ini diharapkan hidup dalam kegembiraan selama-lamanya. Bahkan pemberian rezekipun harus diatur supaya tidak timbul perselisihan atau kekacauan.
Contoh dari aturan itu misalnya, pluralism,atheism, homoseksual, lesbian, nudisme, termasuk juga pembagian keuntungan 1% dari Freeport dan segala hal yang buruk menurut kaca mata Islam atau bahkan kehidupan bernegara bagi masyarakat di negara tersebut. Itulah program yang harus dilakukan oleh negara-negara atau setiap manusia di bumi. Siapa yang membantah atau melawan, maka negara atau orang itu adalah teroris,tidak menjunjung HAM  dan harus dimusnahkan dari muka bumi.Itu harus dilakukan demi terciptanya kegembiraan hidup bagi  mayoritas umat manusia di atas bumi ini selama-lamanya.
Demokrasi, dalam arti memilih pemimpin/khalifah dengan menanyakan seluruh rakyat baik bodoh atau berilmu dan semuanya bernilai sama adalah salah satu aturan yang harus diikuti oleh negara-negara di atas dunia ini. Demokrasi seperti itu tidak dikenal dalam Islam. Begitu juga pembagian kekuasaan menjadi 3 unsur yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Yang ada pada awal sejarah Islam adalah pemilihan khalifah atau pemimpin saja. Khalifah dipilih oleh orang-orang berilmu dan diakui kredibilitasnya. Kemudian, baru masyarakat ramai-ramai mengakuinya. Nabi Muhammad SAW, tidak menunjuk siapa penggantinya, karena dia melihat bahwa sahabat-sahabat utamanya mempunyai kelebihan masing-masing. Betapapun dia melihat bahwa Ali bin Abi Thalib pantas untuk menjadi khalifah pengganti beliau, tetapi beliau juga mendapatkan fakta bahwa Abu Bakar, Umar, Usman, bahkan Salman Al-Farisipun yang bukan orang Quraisy juga mempunyai keutamaan dan pantas pula menjadi khalifah. Biarlah sahabat-sahabat utama beliau itu saling bermusyawarah untuk menunjuk siapa yang paling pantas untuk menjadi pengganti beliau. Hati yang bersih akibat tempaan dari beliau diyakini pula oleh beliau  akan menambah keakuratan dari pemilihan khalifah pengganti beliau tersebut. Itulah demokrasi Islam. Orang-orang yang tidak ada keutamaan padanya seperti anak-anak, orang-orang pikun, orang-orang tidak berilmu, dilarang untuk memilih pemimpin.
Indonesia dan mayoritas dunia Islam, menyetujui demokrasi seperti saat ini, karena kegagalan mereka untuk bersatu mendapatkan satu pemimpin yang penuh dengan keutamaan. Satu hal yang telah diprediksikan oleh Nabi Muhammad. Sehingga beliau berkali-kali mewasiatkan untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan itu. Tapi beliaupun telah memprediksikan bahwa umat Islam sedunia akan gagal mendapatkan pemimpin yang diakui bersama itu. Karena itulah beliau mengatakan, bahwa umat Islam akan tertekan, dipermainkan dan menjadi santapan lezat dari bangsa-bangsa kafir pada akhir zaman. Suatu hal yang sangat memalukan. Sehingga Allah SWT, Pencipta Alam Semesta demi kebesaran nama-Nya dan kasih saying-Nya terhadap Nabi Muhammad dan umatnya menjanjikan bahwa Dia dengan cara-Nya akan memaksa umat Muhammad mengakui pemimpin bersama itu dan untuk selanjutnya mengembalikan kemuliaan Islam di atas bumi ini, betapapun umur bumi ini tinggal satu hari lagi.
Yang paling konyol dalam sistem demokrasi ini adalah usaha orang-orang kafir untuk merecoki sistem demokrasi yang telah disepakati bersama di negara-negara Islam. Ketika umat Islam berpegang teguh pada aturan-aturan demokrasi, mereka justru mengkhianati aturan-aturan demokrasi itu. Dan bahkan yang sangat konyolnya lagi, mayoritas negara-negara Islam mengakui pemimpin yang diangkat dengan cara-cara yang non-demokratis itu. Itulah yang terjadi di Mesir, Al-Jazair, Tunisia, Palestina dan mengancam Turki dan Indonesia.
Untuk Indonesia, Koalisi Merah Putih akhirnya mengakui Jokowi sebagai presiden. Karena begitulah aturan demokrasi setelah Mahkamah Konstitusi memenangkan Jokowi. Tetapi di lain pihak, para pendukung Jokowi (Koalisi Indonesia Hebat) merecoki aturan-aturan demokrasi yang ada di DPR. Memang indah, bila ada pembagian-pembagian ketua komisi. Memang indah, apabila jabatan-jabatan menteri dibagi-bagikan kepada semua parpol. Tapi apabila keindahan itu tidak dapat dilaksanakan, maka aturan-aturan demokrasi yang telah diketahui dan disepakati itu  haruslah ditaati.
Apabila ada yang mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia, adalah demokrasi Pancasila, maka sebelum permainan demokrasi dimulai, harus jelas dulu apa itu definisi demokrasi Pancasila dan aturan-aturan mainnya. Tanpa itu, semuanya secara sportif harus menaati undang-undang yang telah diketahui , diakui dan disepakati  bersama sebelum permainan demokrasi dimulai.
Apa yang terjadi pada Indonesia pada saat ini ,bagi saya jelas telah dimulainya  langkah-langkah untuk memporak-porandakan bangsa Indonesia yang mayoritas Islam ini. Tidak ada yang diinginkan dunia ini, kecuali mencoba mewujudkan mimpi John Lennon atau persepsi yang menyerupai mimpi John Lennon. Dan naudzubillah, hal itu pasti akan terjadi karena begitulah nabi Muhammad telah memprediksinya.
Pada akhirnya semua bergantung pada Allah SWT Pencipta Alam Semesta itu. Apakah menurut Zat Allah itu saat ini masih belum satu hari menjelang kiamat ? Karena dipastikan tidak mungkin menyatukan umat Islam sedunia ini dalam satu komando kecuali Allah SWT mengkhendaki-Nya.

Comments are closed.