LGBT NO WAY (TEORI ID ALLOOH)

T. MUDWAL

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan maraknya berita-berita tentang pro dan kontra perilaku seksual yang tidak lazim yaitu lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Lebih terkejut lagi dengan membaca berita-berita, atas keberanian kelompok LGBT ini untuk bermain secara terbuka dalam satu bulan terakhir ini. Mereka berani meminta, supaya presiden RI menindak tegas MENRISTEK, Walikota Bandung dan beberapa anggota DPR yang menurut mereka berkomentar rasa kebencian terhadap LGBT. Bahkan mereka berani mensomasi surat kabar yang tidak memberikan informasi berimbang dalam masalah LGBT ini. Padahal mereka tahu, mayoritas bangsa Indonesia (termasuk saya), masih jijik terhadap perilaku seksual kelompok LGBT ini.

Kenapa kelompok LGBT sangat berani pada saat ini ?, Pada hemat saya, karena bos besar dunia (Amerika Serikat) telah ditundukkan oleh virus LGBT pada tahun 2015 kemarin. Dengan tunduknya bos besar itu, maka wajarlah, bila bos besar menginginkan semua negara di dunia mengikuti apa yang dianggap benar oleh bos besar dunia. Kesuksesan menundukkan bos besar dunia, adalah kunci berkembangnya LGBT di seluruh dunia. Suatu prestasi yang sangat luar biasa dari virus LGBT. Sebab sampai dengan tahun 1996, pemimpin bos besar (Clinton), masih menyatakan bahwa perkawinan bagi bangsa Amerika adalah antara lelaki dan perempuan.

Negara-negara besar Eropa yang merupakan sahabat karib bos besar telah pula ditundukkan oleh virus LGBT ini. Merekapun menyatakan siap untuk membantu perkembangan LGBT ini ke seluruh dunia. Begitupun PBB, tempat berkumpulnya negara-negara didunia ini. Kekuatan kelompok LGBT pada PBB menyebabkan mereka dapat membantu kelompok LGBT didunia ini atas nama PBB. Tapi yang paling penting, dari senjata perang virus LGBT, adalah berhasilnya mereka untuk mempengaruhi WHO, sehingga WHO menghilangkan diagnosa LGBT dari ICD X. Jadi para dokter dipaksa untuk menyatakan bahwa LGBT adalah orang normal, sama seperti orang normal yang non-LGBT. Teori psikologi yang menyatakan bahwa orientasi seksual LGBT adalah suatu hal yang alamiah dan telah ada sejak lahir, dipaksa untuk diakui oleh para dokter didunia sebagai teori ilmiah. Sehingga komunitas LGBT dapat keluar dari penjara, dan menyatakan pada masyarakat bahwa mereka semua bukanlah orang yang sakit jiwanya. Kelompok LGBT ini pun diperkuat oleh adanya teori genetik dan hormonal yang menyatakan bahwa LGBT adalah suatu hal yang harus diterima karena itu adalah kehendak Allooh sejak dari lahirnya. Hukum HAM pun tunduk pada virus LGBT. Negara yang menolak LGBT, berarti melanggar HAM dan harus di hukum.

Dapatkah Indonesia bertahan dari serangan virus LGBT, beserta bala tentaranya itu? Kata kunci, untuk menundukan Indonesia, selain kekuatan uang dan iming-iming jabatan (termasuk jabatan presiden) juga dengan  kekuatan bicara dari tokoh-tokohnya. Terutama para ulama Islam atau orang yang telah diorbitkan sebagai cendikiawan Islam. Maka bermunculanlah komentar yang aneh-aneh tentang LGBT, yang menurut masyarakat luas (termasuk saya). Ada komentar yang meragukan kebenaran cerita kaum Luth. Ada pula komentar yang meragukan bahwa kemurkaan Allooh pada kaum Luth bukanlah karena masalah homoseksualnya tetapi karena kaum Luth tidak menghormati tamunya. Atau komentar yang mengartikan berpasang-pasangan itu seperti yang tertulis didalam Al-Qur’an, tidaklah selalu harus positif dengan negatif, tetapi bisa juga positif dengan positif atau negatif dengan negatif. Dan masih banyak lagi komentar-komentar aneh lainnya. Yang menarik pada saya adalah komentar yang mencoba mencari jalan tengah. Mereka berpendapat bahwa lingkungan harus diperkuat untuk tidak terjadinya perilaku seksual LGBT. Namun demikian mereka menyatakan pula bahwa LGBT tetap harus dilegalkan termasuk juga perkawinan antara mereka. Karena LGBT adalah “given (pemberian allooh)”. Dengan sebab itu terjadilah orientasi seksual yang lain dan berefek pada perilaku seksual yang lain pula. Yang jelas kata mereka, LGBT ini tidak mengganggu masyarakat. Karena mereka tidak mencuri, membunuh, korupsi dan sebagainya. Bagi saya pendapat seperti ini adalah suatu pendapat yang aneh. Karena tidak ada LGBT yang given. Dan tidak ada yang akan diperbuat oleh komunitas virus LGBT, kecuali memperbanyak manusia supaya tertular virus tersebut.  Karena hanya dengan  demikianlah mereka akan tetap eksis selama-lamanya. Persis seperti gigitan Drakula. Dengan demikian jelas bahwa LGBT merusak masyarakat.

Dengan dasar-dasar diatas, wajiblah bagi siapapun juga yang mempunyai ilmu untuk menghancurkan virus LGBT itu. Menghentikan gigitan Vampir Drakula itu. Semoga tulisan dibawah ini, dapat menjadi senjata bagi siapapun juga yang mempunyai niat yang sama seperti saya.

A. PERKEMBANGAN DIAGNOSIS LGBT SEBAGAI GANGGUAN KEJIWAAN

Para ahli penyakit jiwa Amerika Serikat, telah membuat standar dari gangguan jiwa (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder/ DSM). Dimana standar tersebut menjadi rujukan dari ahli penyakit jiwa sedunia. DSM pertama kali dibuat pada tahun 1952 (DSM I), 1968 (DSM II), 1973 (DSM III), 2000 (DSM IV), 2013 (DSM V). Sedangkan untuk Indonesia dituliskan dalam bentuk PPDGJ ( Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa). PPDGJ I (1973), PPDGJ II (1983), PPDGJ III (1993).

Adalah menarik bahwa seseorang dengan perilaku seksual LGBT mengalami perubahan dari DSM ke DSM atau dan PPDGJ ke PPDGJ. Pada DSM I dan DSM II, atau PPDGJ I, orang LGBT didiagnosa mempunyai gangguan kejiwaan sociopath atau antisosial. Jadi seorang dokter atau ahli jiwa pada saat itu akan meminta supaya orang LGBT itu, berusaha mengikuti aturan-aturan budaya dan sosial yang berlaku dimasyarakatnya. Tetapi pada DSM III (1973) dan PPDGJ II (1983) orang-orang LGBT, tidak dimasukan lagi sebagai sociopath atau antisosial. Mereka LGBT hanya dimasukan dalam gangguan jiwa jika yang bersangkutan mengalami frustasi yang berlebihan karena LGBTnya (Ego Distonia). Jadi seorang dokter atau ahli jiwa pada saat itu akan meminta seorang LGBT yang mengalami ego distonia untuk bersabar dan berusaha menerima LGBTnya secara sadar. Sedangkan LGBT yang tidak mengalami ego distonia adalah orang-orang yang sehat jiwanya setara dengan heteroseksual. WHO pun mendukung itu dengan menghilangkan diagnosa LGBT pada ICD X (1990). ICD merupakan alat diagnostik, standar epidemiologi, managemen kesehatan dan tujuan klinis yang diterbitkan oleh WHO.

Dengan pengertian diatas sejak 1973 di Amerika Serikat serta belahan dunia lainnya dan Indonesia sejak tahun 1983 DSM atau PPDGJ secara tidak langsung mulai menyalahkan lingkungan atau masyarakat sekitar LGBT tersebut.Apabila dibuat diagnosa maka sejak tahun 1973 seorang LGBT yang mengalami frustasi atau anxietas berlebih maka  diagnosanya adalah frustasi atau anxietas pada pasien LGBT akibat ketidaktahuan masyarakat terhadap LGBT.

Sedangkan sejak tahun 2000 (DSM IV) dan revisi PPDGJ III terakhir, tidak ada lagi diagnosa frustasi atau anxietas/ kecemasan pada orang LGBT. Yang ada adalah distres atau sakit hati akibat perlakuan masyarakat sekitar terhadap LGBT. Atau masyarakatlah yang sakit. Jadi seorang dokter, yang kedatangan pasien dengan rasa cemas, dan mengetahui bahwa orang itu adalah LGBT, maka diagnosanya adalah frustasi  dan anxietas yang terjadi pada orang normal akibat ketidaktahuan masyarakat terhadap LGBT. Dokter tersebut harus berusahan untuk memberikan keberanian kepada LGBT untuk memberikan penerangan pada masyarakat dalam masalah LGBT. Hal ini, perlu dilakukan oleh LGBT itu, bahkan ahli jiwa itupun perlu juga melakukan hal yang sama bila penyebab cemas itu dipastikan karena perlakuan masyarakat yang buruk terhadap orang LGBT itu.

Sedangkan pada DSM V, selain tidak ada lagi LGBT yang didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan atau sakit hati, juga tidak ada lagi perilaku masyarakat sekitar yang disalahkan, karena ketidaktahuan tentang LGBT. Karena semua masyarakat telah mengerti, bahwa mereka adalah orang normal seperti masyarakat lainnya. Dan apabila masih ada yang belum  mengerti, maka mereka tinggal memanggil polisi untuk menangkap masyarakat tersebut. Apabila dibuat diagnosa pada pasien LGBT yang mengalami frustasi atau anxietas, berdasarkan DSM V maka diagnosanya adalah frustasi atau anxietas pada orang normal akibat perselisihan dengan masyarakat tetapi bukan pada masalah LGBT misalnya masalah kerja bakti atau sumbangan dan sebagainya. Sehingga selesailah masalah LGBT pada DSM V. Indonesia pada saat ini masih pada DSM IV atau PPDGJ III yang telah direvisi. Yang berarti tugas dari pada LGBT dan yang pro terhadap mereka untuk berjuang memberikan pengertian terhadap masyarakat bahwa LGBT adalah suatu yang normal. Itulah yang terjadi pada saat ini di Indonesia. Padahal untuk saya dan masyarakat lain yang mengerti atas kebenaran, LGBT sudah seharusnya dikembalikan pada DSM I atau DSM II yang berarti LGBT adalah tetap merupakan penyakit jiwa sociopath atau anti sosial.

Pertanyaannya adalah kenapa kita harus mengikuti pendapat Internasional bahwa LGBT adalah orang yang normal atau kenapa masyarakat Internasional ingin sekali supaya  LGBT menjadi suatu hal yang legal diseluruh dunia. Jawabanya pada hemat saya adalah LGBT pada masyarakat Internasional mempunyai dasar ilmiah. Karena itu untuk menolak LGBT kita harus dapat membuktikan bahwa dasar ilmiah mereka adalah salah.

B. Alasan Untuk Menolak Bahwa Perilaku Seksual LBGT Adalah Sesuai Dengan Teori Kejiwaan Moderen (Teori Id Allooh),

 Karen Amstrong dalam bukunya sejarah Tuhan mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan telah ada sejak 14000 tahun yang lalu, di dunia kuno timur tengah. Bahkan Willham William Schmid dalam bukunya the origin  of the idea of God, meyakini bahwa sejak Homosapiens ada, maka Homosapiens itu telah berTuhan. Dan dia yakin bahwa para generasi awal Homosapiens itu telah menyembah Tuhan yang satu. Hal ini didasarkan pengamatannya pada agama suku-suku pribumi Afrika yang ternyata hanya mempercayai satu Tuhan. Jadi keinginan untuk berTuhan telah ada sejak awal kehidupan manusia.

Dari mana datangnya id Allooh atau keinginan untuk berTuhan itu? Manusia selama dalam kandungan adalah mahluk, yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Jiwa manusia berada dalam kebebasan penuh. Baru pada saat, akan dilahirkan atau mulaiya kontraksi dari rahim ibu, terjadilah goncangan dari ego tersebut. Dimana seluruh goncangan-goncangan itu sampai dengan saat dilahirkan berlangsung +- 14-15 jam pada anak pertama dan +- 7-8 jam untuk anak-anak berikutnya. Sehingga setelah keluar dari kandungan, ego itu sudah benar benar hancur total. Atau seluruh id itu tunduk pada kekuatan luar biasa yang berasaal dari luar itu. Itulah saat terjadinya apa yang saya namakan id Allooh atau insting untuk berTuhan. Bagaimana dengan bayi yang dilahirkan dengan seksio sesaria? Adakah goncangan-goncangan atau stress pada janin tersebut? Indikasi seksio sesaria adalah gawat janin. Gawat janin berarti stress pada janin atau goncangan goncangan pada ego janin tersebut. Goncangan yang mungkin lebih lama ketimbang janin yang dilahirkan secara normal atau pervaginam. Karena stress pada janin itu mungkin telah terjadi berjam-jam dirumah sebelum dibawa kerumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit biasanya menunggu pula berjam-jam sebelum diputuskan dilakukannya seksio sesaria. Sehingga lebih kurang stress yang terjadi pada janin akibat seksio sesaria adalah sama dengan stress yang terjadi pada janin dengan melahirkan secara pervaginam. Bahkan mungkin bisa lebih lama lagi. Kehancuran ego secara total ini baru berakhir setelah janin itu dilahirkan. Itulah yang ditunjukan dengan tangisan bayi pada saat lahir. Dengan alasan di atas jelas bagi kita bahwa id Allooh sangat tertanam pada seluruh jiwa manusia.

Apakah id Allooh ini dapat di abaikan? Ternyata id Allooh ini selalu muncul, bila manusia mengalami kehancuran atau ketakutan atau mendapat siksa yang pedih. Atau ancaman terhadap kehidupan manusia itu, yang sangat sulit untuk di atasi. Seorang yang tertimpa badai di tengah laut, adalah contoh nyata, dari adanya id Allooh itu. Dia akan memanggil-manggil, siapa pun juga yang di angapnya hebat yang dapat menyelamatkan dirinya. Jadi id Allooh, akan selalu memberikan ketenangan pada jiwa tersebut. Suatu pembohongan besar, bila manusia dapat melepaskan diri dari id Allooh itu.

Seluruh id dan ego akan tunduk dalam kehidupan manusia itu bila dia bertemu dengan superego yang dapat memuaskan id Allooh. Makin baik realita testing dari ego, maka makin kritis dia untuk mendapatkan sesuatu yang menenangkan dirinya atau terpuaskannya id Allooh. Nabi Ibrahim adalah contoh dari kekritisan ego manusia untuk mencari penenang atau penyelamat jiwanya itu. Atau memuaskan id Allooh yang ada pada dirinya. Dia menolak patung, bulan, matahari, sebagai Tuhan untuk kemudian dia menetapkan bahwa Tuhan itu adalah Zat yang maha hebat yang tidak kelihatan.

Jadi kata kuncinya adalah seluruh ego dan id bukan Allooh akan tunduk secara total, bila manusia tersebut dalam kehidupannya bertemu dengan superego, yang dapat memuaskan id Allooh. Masalahnya adalah berapa lama ego dan id bukan Allooh dapat bertahan untuk tunduk dan patuh pada superego yang di dapatkannya? Makan, minum dan hubungan seksual, adalah id bukan Allooh yang harus drielisasikan, demi hidup dan sehatnya individu tersebut. Ajaran superego yang sangat berlebihan, akan menyebabkan terjadinya pemberontakan dari ego, akibat desakan dari id bukan Allooh yang tidak tersalurkan. Itulah yang kita sebut kemunafikan. Misalnya, mereka siap untuk tidak kawin seumur hidup, karena begitulah kata superego yang diyakininya. Tetapi tenyata mereka melakukan penyaluran seksual secara sembunyi-sembunyi, supaya superego dan manusia yang mengikutinya tidak mengalami kehancuran. Apakah orientasi seksual LGBT termasuk yang harus direalisasikan?

Insting seksual yang berada pada janin manusia sejak di dalam kandungan adalah insting seksual untuk lawan jenis, bukan untuk sesama jenis. Karena dengan demikianlah manusia berkembang biak. Hal ini dibuktikan dengan mayoritasnya atau bahkan hampir seluruhnya tertarik dengan lawan jenis dan kemudian menikahinya. Menyatakan bahwa insting LGBT adalah keterhambatan insting seksual untuk menjadi heteroseksual, bagi saya adalah pikiran Freud tanpa alasan yang kuat. Seluruh manusia mencapai titik sempurna dari insting heteroseksual. Superego yang salahlah yang menyebabkan orang tersebut berperilaku seksual LGBT. Keinginan manusia untuk mempertinggi kesenangan ego atau melakukan variasi atau, inovasi dan kreativitas dalam masalah hubungan seksual juga hanya terjadi pada lawan jenis, bukan sesama jenis. Superego yang salahlah yang menyebabkan seseorang berani melakukan variasi dalam masalah hubungan seksual, dengan melakukan perilaku seksual LGBT. Dengan alasan-alasan di atas, mengatakan bahwa orientasi seksual LGBT adalah bawaan dari lahir, sama sekali tidak relevan. Mutlak diperlukan pengahancuran dari komunitas LGBT ini. Dalam arti memasukan mereka semua ke penjara, demi menghindari adanya superego yang salah yang berbahaya bagi masyarakat umumnya dan generasi berikutnya. Pengobatan secara intensif pun akan tercapai bila mereka semua berada dalam penjara.

C. Alasan Untuk Menolak Bahwa Orientasi Seksual LGBT Adalah Kehendak Allooh (Adanya Unsur Genetik dan Hormonal)

  • Pattatuci (1998)

Menemukan adanya gen gay pada kromosom x dari seorang gay.

Penolakan

Manusia dengan jenis perempuan, karena kromosomnya xx dan laki-laki karena kromosomnya xy. Tidak ada manusia yang dilahirkan sebagai banci. Karena itu pada laki-laki saat lahir, pastilah hormon androgen dan testosteronnya lebih tinggi dari perempuan. Tetapi hormon estrogennya lebih rendah dari perempuan. Penelitian yang dilakukan oleh Pattatuci harusnya dilakukan ketika bayi baru lahir. Apakah ada gen gay pada kromosom x, bayi tersebut. Kemudian diikuti apakah benar dia akan menjadi gay. Mendapatkan adanya gen gay pada kromosom x seorang gay dewasa, kemungkinan adalah akibat obat-obatan yang menekan hormon androgen dan obat-obatan peningkat hormon estrogen yang diminum gay tersebut. Penyebab lain dari tidak berkembangnya hormon androgen (sehingga kemungkinan menyebabkan adanya gen gay pada kromosom x pada seorang gay) adalah akibat superego buruk yang menekan hormon androgen mereka sejak masih bayi.

  • Simon Levay (1991)

Pria heteroseksual dan homoseksual memiliki perbedaan dalam struktur dan ukuran hipotalamus.

Penolakan

Sama dengan penolakan terhadap adanya gen gay pada kromosom x homoseksual.

  • Hammer (1993)

Adanya saudara laki-laki dari pihak ibu yang homoseksual akan memudahkan terjadinya homoseksual pada orang tersebut. Ini terbukti, dengan ditemukannya 33 orang homoseksual dari 40 saudara laki-laki dari pihak ibu. Mereka mengklaim, hal demikian terjadi karena adanya faktor genetik yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual.

Penolakan

Superego yang mendukung homoseksual, itulah penyebab terjadinya homoseksual (bukan genetik). Apabila ada dari pihak ibu, yang homoseksual, maka figur ayah kurang dominan. Karena pada seluruh manusia, disaat kecilnya dekat dengan ibunya. Ternyata bukan ibunya saja yang dilihatnya sebagai perempuan, adapula perempuan dalam bentuk laki-laki yang sering dilihatnya. Sedangkan apabila homoseksual itu berasal dari laki-laki yaitu dari pihak ayah, maka figur ayah yang jelas menunjukan laki-laki tersebut, dapat menjadi benteng dari si anak, untuk tidak mengikuti perilaku homoseksual dari saudara laki-laki si ayah.

  • Franz Kallman (1952)

Kejadian homoseksual, lebih mudah terjadi pada kembar identik ketimbang kembar non identik atau fraternal

Penolakan

Ini tidak menunjukan, bahwa homoseksual disebabkan oleh genetik. Penelitian itu hanya menunjukan satu hal yang logis saja. Karena kembar biasanya saling tiru meniru. Seseorang yang tidak kembar lebih sulit untuk menjadi homoseksual ketimbang kembar non identik. Kembar non identik lebih sulit untuk menjadi homoseksual, ketimbang kembar identik. Itu hanyalah untuk cara berpikir logis. Sama sekali tidak menunjukan bahwa homoseksual berasal dari genetik.

  • Dorner (1988)

Hormon androgen pada pria homoseksual, lebih rendah ketimbang heteroseksual

Penolakan

Mayoritas penelitian tentang hormon androgen pada homoseksual, menunjukan tidak adanya perbedaan bermakna antara homoseksual dan heteroseksual. Bila ditemukan penelitian yang menunjukan hormon androgen pada homoseksual lebih rendah ketimbang heteroseksual, maka penelitian tersebut harus dikritisi dengan cermat. Apakah penelitian itu telah memenuhi standar?. Apabila dianggap telah memenuhi standar, maka harus diingat pula bahwa penelitian itu dilakukan pada gay dewasa. Mungkin saja rendahnya hormon androgen itu disebabkan gay tersebut sering meminum obat-obatan yang menekan hormon androgen. Perilaku kewanitaan sejak dari kanak-kanak akibat superego yang mendukung perilaku tersebut, juga dapat menekan perkembangan hormon androgen.

  • Ellis, Zuger (1988, 1989)

Stress pada masa kandungan akan memicu lahirnya bayi yang homoseksual atau berperilaku kewanitaan.

Penolakan

Pendapat itu tidak didukung dengan memeriksa berapakah kadar hormon androgen pada bayi-bayi yang mengalami stress dalam kandungan tersebut, ketika mereka dilahirkan. Bila hormon androgennya rendah ketika dilahirkan, maka pendapat itu dapat diterima. Tetapi bila hormon androgennya normal, maka kesalahan individu itu sendiri dan lingkungannyalah yang menyebabkan terjadinya homoseksual atau perilaku kewanitaan.

  • Dancey (1990)

Dia menyatakan bahwa dari 5 studi pada lesbian, mayoritas atau 3 studi tidak menunjukan perbedaan yang bermakna antara estrogen seorang lesbian dan heteroseksual. Sedangkan 1 studi menunjukan estrogen lebih rendah dan 1 studi lagi menunjukan estrogen normal tetapi testosterone tinggi pada lesbian.

Penolakan

Dengan alasan hampir sama seperti yang dikemukakan pada penelitian hormone androgen pada homoseksual, maka kita melihat mayoritas penelitian jelas menunjukan tidak adanya perbedaan bermakna kadar estrogen pada lesbian dan non lesbian. Bila ada yang menunjukan perbedaan bermakna, maka harus dikritisi dengan cermat. Apakah penelitian itu telah memenuhi standar. Apabila telah memenuhi standar (*lihat alasan penolakan pada teori Dorner). Sedangkan rendahnya hormon estrogen atau tingginya hormon testosterone selain karena obat-obatan yang biasa diminum oleh para lesbian juga disebabkan superego atau lingkungan yang mendukung sifat kelaki-lakian yang mungkin saja menyebabkan kadar hormon estrogen lesbian tersebut kurang berkembang.

D. Dukungan kitab suci Al-Quran terhadap apa yang telah saya tuliskan dan kisah Luth (alasan untuk menolak cendikiawan muslim yang pro LGBT)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. Al A’raf:172)

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang biasa kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). (QS. Al Isra : 67)

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Yunus : 90)

Bukankah aku telah mengambil perjanjian dari kalian wahai anak Adam, agar kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu (QS. Yasin : 60)

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. (QS. Al Furqon : 43)

Komentar :

Id Allooh terbentuk pada saat manusia dilahirkan (Al-A’raf 172). Munculnya id Allooh bila ego mengalami kehancuran (Al Isra 67). Bahkan sang Firaunpun harus mengakui adanya id Allooh ketika egonya hancur total (Yunus 90). Yasin 60 dan Al-A’raf 172 menunjukkan bahwa manusia pasti akan menjumpai Allooh atau superego yang benar atau ajaran Allooh setelah dia aqil baligh atau akalnya telah berfungsi dengan baik. Atau realita testing dari ego untuk menilai kebenaran telah berjalan sempurna. Dengan desakan dari id Allooh yang minta terpuaskan dan akal pikiran yang sehat maka agama Islam pasti akan menjadi superego yang menuntun kehidupannya. Pada Al-Furqon 43, mengabaikan id Allooh atau insting menyembah Tuhan yang esa, secara implisit akan mendapatkan siksa yang pedih. Sebab hanya dengan siksa yang pedih atau kehancuran ego secara total, id Allooh akan berkuasa kembali pada jiwa manusia.

Demi jiwa serta penyempurnaanya(ciptaan)nya, (QS. Asy-Syams 7)

Maka Dia (Allah) mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, (QS. Asy-Syams 8)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga). (QS. Ali Imron 14)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf 53)

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Annur 32)

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Isra 32)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (QS. Az-Zariyat 49)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Arrum 21)

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturrahim). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. Annisa 1)

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS Al Baqoroh 223)

Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (apabila kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim. (QS. Annisa 3)

Komentar:

Dari Asy Syams ayat 7, penyempurnaan jiwa, itulah id Allooh yang terjadi pada saat kelahiran. Sedangkan Asy Syams ayat 8, menunjukkan id Allooh dan seluruh id bukan Allooh (nafsu). Contoh contoh id bukan Allooh pada Ali Imron 14. Untuk mendapatkan itu semua, ada aturan dari Allooh atau superego yang benar. Itulah nafsu yang diberi rahmat (Yusuf 53). Allooh menyuruh kawin, supaya insting seksual yang mempunyai desakan hebat ke ego itu dapat tersalurkan (Annur 32). Hebat nya kekuatan insting seksual itu, terlihat dengan adanya kalimat jangan takut miskin (Annur 32). Kalau tidak dikawinkan, dikhawatirkan orang tersebut akan terjatuh pada zina, karena tidak mampu menahan dorongan insting seksual (Al Isra 32). Padahal zina adalah perbuatan keji. Fungsi perkawinan adalah untuk berkembang biaknya manusia (Annisa 1). Dengan demikian yang dimaksudkan kawin, berpasang-pasangan (Az-Zariyat 49), dan istrimu dari jenismu sendiri (Ar Rum 21) adalah antara laki laki dan perempuan. Insting variasi pun boleh direalisasikan tetapi pada lawan jenis (Al Baqoroh 223). Bahkan insting variasi ini dapat diperluas dengan mengawini sampai 4 orang wanita (Annisa 3). Adil yang dimaksud pada Annisa 3, adalah pemberian yang dapat diukur atau pemberian yang terlihat

KISAH LUTH, AS

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, (QS. Asyura 165)

dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas” (QS Asyura 166)

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS Al-A’raf 80)

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS Al-A’raf 81)

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS Huud 78)

Dan (ingatkanlah peristiwa) Nabi Lut tatkata ia berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu melakukan perbuatan yang keji, yang tidak pernah dilakukan oleh seorangpun dari penduduk alam ini sebelum kamu. (QS Al Ankabut 28)

“Patutkah kamu mendatangi orang lelaki (untuk memuaskan nafsu syahwat kamu)? Dan kamu merusak jalan keturunan  (Takta’unas sabil)? Dan kamu pula melakukan perbuatan yang mungkar di tempat-tempat pertemuan kamu?” Maka kaumnya tidak menjawab selain daripada berkata (secara mengejek-ejek): “Datangkanlah kepada kami azab dari Allah (yang engkau janjikan itu) jika betul engkau dari orang-orang yang benar”. (QS Al Ankabut 29)

Dan (ingatlah kisah) Luth ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) padahal kamu melihatnya (kekejian perbuatan maksiat itu)?” (QS An Naml 54)

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat(mu), bukan (mendatangi) perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (QS  An Naml 55)

Dan ketika datang (malaikat) utusan kami kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita yang mengembirakan), mereka berkata: “Sebenarnya kami hendak membinasakan penduduk bandar ini), sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”. (Al Ankabut 31)

Nabi Ibrahim berkata: “Sebenarnya Lut ada di bandar itu”. Mereka menjawab: “Kami mengetahui akan orang-orang yang tinggal di situ. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan dia dan keluarganya (serta pengikut-pengikutnya) – kecuali isterinya, ia adalah dari orang-orang yang dibinasakan”. (Al Ankabut 32)

Dan demi sesungguhnya, Kami telah (binasakan bandar itu dan telah) tinggalkan bekas-bekasnya sebagai satu tanda (yang mendatangkan iktibar) bagi orang-orang yang mahu memahaminya. (QS Al Ankabut 35)

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar (QS Huud 82)

Komentar

Kisah kaum Luth benar benar terjadi, kecuali kita tidak percaya Al-Quran. Kalau kita masih kurang yakin, kita bisa membaca laporan penelitian arkeolog Jerman Werren Keller. Dan kemudian pergi ke laut mati, untuk membuktikan apakah benar kota kaum Luth itu terkubur di laut mati. Tidak ada keraguan dari ayat ayat diatas, bahwa kemurkaan Allooh pada kaum Luth karena mereka adalah gay atau homoseksual (Asy Syuara 165, Al A’raf 81, Al Ankabut 29). Dipertegas oleh Allooh bahwa mereka adalah gay dengan tidak berhubungan seks pada perempuan (QS Al A’raf 81). Atau mereka pernah beristri dan hidup normal, tetapi kemudian menjadi gay (Asy-Syuara 166).

Kaum Luth adalah pusat komunitas gay pertama didunia (QS Huud 78) dan secara nalar otomatis menjadi pusat lesbian pertama di dunia. Adanya lesbianism pada kaum Luth juga diperkuat dengan hadis Hudzaifah ra. “Sesungguhnya benarlah ucapan Alloh Swt atas kaum Luth,2 tatkala kaum wanita dari mereka merasa cukup dengan para wanitanya, dan kaum lelaki merasa cukup dengan kaum lelaki (Baihaqi)”

Karena yang selamat hanyalah kaum Luth dan pengikutnya maka  berdasar ayat asy syuara 166  dan hadis Hudzaifah ra, maka yang dibinasakan oleh Allooh SWT adalah:

  1. Semua laki laki kaum Luth yang sudah pasti gay dan melakukan sodomi. Kalaupun ada gay yang belum sempat melakukan sodomi, mereka tetap dihancurkan Allooh oleh karena orientasi seksualnya telah berubah (keluar dari fitrah)
  2. Semua perempuan yang telah berubah jadi lesbian dan melakukan sodomi (buatan/alat) atau belum sempat melakukan sodomi. Orientasi seksual yang telah berubah (keluar dari fitrah) sudah cukup menjadi syarat untuk membinasakan mereka semua. Semua perempuan yang telah menjadi lesbian ini mendukung perbuatan kaum Luth untuk mejadi homoseksual termasuk istri kaum Luth
  3. Para laki laki dan perempuan yang tetap heteroseksual atau normal tetapi mendukung kaum Luth untuk menjadi homoseksual dan lesbian
  4. Semua heteroseksual yang telah berubah menjadi biseksual. Dihancurkan Allooh oleh karena telah terjadi orientasi seksual yang salah dan melakukan sodomi. Secara teoritis kemungkinan untuk menjadi biseksual adalah sangat mungkin pada komunitas homoseksual.
  5. Para banci atau transgender, juga dihancurkan semuanya oleh Allooh, baik pernah melakukan sodomi atau belum. Adanya transgender atau laki laki dengan perilaku kewanita wanitaan adalah sangat mungkin didapatkan pada kaum kaum homoseksual.

            Kesimpulannya pada kaum Luth semua jenis perilaku seksual yang menyimpang atau LGBT ada disitu. Pembinasaan semua orang yang telah berubah orientasi seksualnya, baik telah sempat melakukan perilaku seksual mennyimpang ataupun belum, menunjukkan Allooh tidak memberikan kesempatan timbulnya superego atau ajaran itu lagi ditempat lain. Jadi bukan sodominya yang utama, sebagai penyebab murka Allooh melainkan orientasi seksualnya. Karena itu secara hukum Islam sodomi pada istri sendiri hukumannya lebih ringan ketimbang sodomi pada LGBT. Betapapn hukumnya tetaplah haram.

Dan mereka kaum Luth sering mengadakan pesta pesta homo (Ankabut 29) berita tentang keanehan kaum Luth ini, terdengar kekota-kota sekitarnya. Sehingga mereka datang ke kota kaum Luth. Hikmah ini kita dapatkan dari ayat huud 78 dan ankabut 29. Dari huud 78, kita juga melihat bagaimana sungguh-sungguhnya Luth untuk mencegah perbuatan homoseks ini. Dia berani memberikan putri putrinya supaya dikawini oleh kaumnya demi menyelamatkan tamu tamu itu dari paksaan melakukan perbuatan homoseksual. Atau secara tersirat kota kaum Luth itu adalah pusat komunitas homosek sedunia. Perbuatan homoseksual adalah keji (al-a’raf 80, an naml 54) melampaui batas (asy syuara 166, al a’raf 81), bisa merusak jalan keturunan (Takta’unas sabil/ankabut 29), (Tafsir Takta’unas Sabil dengan merusak jalan keturunan lebih tepat ketimbang melakukan perbuatan menyamun atau merampok. Sebab pada kota kaum Luth sering diadakan pertemuan pertemuan atau pesta pesta seperti yang tertulis pada ayat itu juga. Tidak mungkin orang akan datang ke pesta/pertemuan bila tidak aman atau banyak penyamun.), perbuatan sodomi mendatangkan penyakit (an naml 55) Karena itulah Allooh sangat murka dan memberikan azab pada mereka (ankabut 35, huud 82). Dan semua penduduknya binasa kecuali pengikut kaum Luth (ankabut 31-32)

Dengan membaca ayat quran dan ulasan ulasan diatas tentang kisah kaum Luth, maka adalah sangat bodoh dan aneh apabila ada orang Islam yang meragukan kehistorisan kisah tersebut atau masih ragu bahwa murka Allooh pada kaum Luth jelas-jelas oleh karena mereka gay atau homoseksual. Bahkan dari uraian diatas kemurkaan Allooh pada kaum Luth juga oleh karena sebagian dari mereka adalah  lesbian, biseksual dan transgender.

D. Alasan untuk menolak komite HAM dunia dan komite HAM Indonesia yang memperbolehkan LGBT

LGBT adalah fakta yang tak bisa di ingkari. Mereka adalah manusia yang sama dengan manusia lain, butuh makan, minum, bersosial dan bereksistensi. Mereka tidak melakukan kejahatan di masyarakat seperti menipu, mencuri, korupsi dan sebagainya. Lalu mengapa mereka harus di perlakukan lebih rendah atau lebih hina dibandingkan dengan heteroseksual?

            Begitulah nyanyian koor dari komunitas LGBT seluruh dunia, dimana perkawinan antar LGBT di negara tersebut belum dilegalkan.

            Hak asasi manusia merupakan terjemahan dari droits de I’homme (Perancis) atau human right (Inggris). Secara definisi human rights adalah “Human Rights could be generally defines as those rights which are inherent in our nature and without which we can not live as human being” (Jan Materson, anggota komisi Hak Asasi Manusia PBB). Sedangkan hak asasi manusia di Indonesia di definisikan berdasar undang-undang nomor 39 tahun 1999, pada bab I pasal I yang berbunyi: “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya yang wajib di hormati, di junjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintahan dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Terlihat dari definisi HAM internasional bahwa diskusi akan terjadi pada apa yang dimaksud dengan our nature. Apakah LGBT adalah our nature? Saya telah jelaskan di depan bahwa LGBT bukanlah our nature dengan alasan yang jelas. Harusnya dunia mengikuti itu bahwa LGBT adalah perilaku yang menyimpang bila argumentasi ilmiah saya lebih kuat ketimbang para pendukung LGBT yang menyatakan bahwa LGBT adalah bagian dari our nature.  Untuk Indonesia apabila definisi HAMnya seperti itu jelas gaya hidup kaum Luth tidak sesuai untuk bangsa Indonesia. Karena terlihat dari definisi HAM di Indonesia ada kalimat demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Dan untuk Indonesia nilai-nilai agama dan moral serta budaya sangat mempengaruhi penilaian tentang kehormatan, harkat dan martabat manusia. Memberikan HAM pada LGBT justru menyalahi dari definisi HAM itu sendiri. Perbuatan kaum Luth adalah suatu hal yang menjijikkan dan terlarang menurut mayoritas bangsa Indonesia. Kesehatan bangsa Indonesiapun terancam oleh mereka.

            Indonesia belum mempunyai data tentang jumlah HIV/Aids akibat perilaku LGBT. Tapi data di Amerika Serikat dapat menjadi pembanding akan bahayanya perbuatan kaum Luth ini. Berdasar survey di AS dari CDC (Center for Disease Control(2013)) didapatkan data, homoseksual hanya 4% dari populasi laki laki di AS. Tetapi sumbangan man who have sex man (MSM), adalah 78% dari jumlah HIV positif di AS. MSM, bisa saja homosex, biseksual, atau transgender. Walaupun demikian jelas para MSM yang terbanyak adalah homoseksual. Jadi homo seksual yang hanya 4% itu ternyata penyumbang terbanyak dari HIV positif. Dan dibuktikan juga oleh CDC 2013, bahwa memang hampir seluruhnya homoseksual terinfeksi HIV (HIV +). Laporan  CDC dari komunitas homoseksual umur 13 tahun keatas didapatkan HIV+ hampir pada seluruhnya(81%). Dan lebih dari setengahnya (55%) jatuh menjadi Aids. Yang lebih mengejutkan adalah 1 diantara 5 gay yang terinfeksi HIV + itu, tidak peduli dengan penyakitnya. Atau tidak peduli orang lain akan tertular atau tidak oleh penyakitnya. Mereka tidak mau kontrol secara teratur untuk mengetahui perkembangan penyakitnya.

            Ada tulisan yang menyatakan jumlah komunitas gay di indoneisa adalah 8 juta orang. Bila kita pakai data yang ada di AS maka +/-  6.4 juta orang mempunyai  HIV yang + (+/-81% dari total homoseksual). Dan dari 6.4 juta ini maka 1 juta 280 ribu orang (1 dari 5 HIV+) tidak peduli dengan penyakitnya atau berkeluyuran kemana mana dan tidak peduli apakah orang lain akan tertular virus HIV nya ataukah tidak. Angka ini mungkin lebih tinggi lagi, karena pendidikan, keuangan dan lingkungan gay Indonesia  lebih buruk ketimbangan gay di AS. Selain menularkan virus HIV, mereka pun menularkan gaya hidup perilaku seksualnya ke masyarakat. Kecanduan untuk disodomi ulang pada korban korban sodomi sangat tinggi. Menurut majalah JAMA tahun 1999 laki laki korban sodomi mempunyai kecenderungan 7x lebih besar untuk menjadi gay ketimbang laki laki yang belum pernah disodomi. Berarti apabila ada seorang gay baru maka kemungkinan besar dia adalah korban sodomi.

            Di Indonesia data sodomi pada anak tahun 2014 adalah 771 orang atau 54% dari 1424 kasus kekerasan seksual pada anak. Berapa ratus orang yang akan menjadi homoseksual? Homoseksual adalah sumber utama untuk terjadinya biseksual, transgender, bahkan lesbian. Apakah Indonesia dan dunia ini ingin berubah menjadi kaum Luth? Cukuplah Xavier Bettel seorang gay yang berhasil menjadi perdana menteri, jangan sampai ada lagi orang gay yang menjadi presiden atau perdana menteri di dunia ini.

            Komnas HAM Indonesia, juga dunia, harus memperhatikan rasa tertekan mayoritas Bangsa Indonesia pada komunitas LGBT. Rasa jijik, mual dan marah melihat perilaku mereka di mana-mana, di jalan-jalan, televisi, dan media sosial lainnya adalah hal yang lebih patut dipertimbangkan untuk diberikan keadilan ketimbang rasa sakit hati dan marah dari komunitas gay terhadap mayoritas rakyat Indonesia.

            Dalil Hukum mengatakan hukum yang sesungguhnya adalah hukum yang dibentuk sesuai dengan keinginan masyarakat banyak. Pasal 28 J ayat 1 UUD 1945, dan pasal 28 J ayat 2 UUD 1945, jelas mengatakan bahwa HAM harus tunduk terhadap keinginan mayoritas rakyat Indonesia, demi ketertiban berbangsa dan bernegara. Jangan sampai demi membela minoritas LGBT, justru terjadi diskriminasi dan marjinalisasi mayoritas.

            Dengan alasan-alasan yang telah diterangkan di atas, bahwa LGBT tidak sesuai dengan definisi HAM, LGBT merusak kehidupan masyarakat, LGBT tidak menghormati HAM dari mayoritas rakyat Indonesia, sudah semestinya komnas HAM Indonesia mencabut keputusannya yang mendesak negara untuk hadir memberikan perlindungan dan pemenuhan hak komunitas LGBT. Departemen sosial dan departemen dalam negeri harus bekerja sama untuk memaksa komunitas LGBT untuk menjalani pengobatan intensif. Karena telah dibuktikan pada artikel ini bahwa LGBT termasuk gangguan kejiwaan. Kalau perlu mereka dimasukkan penjara demi tercapainya pengobatan yang intensif.

            Pasal 28 J ayat 1 UUD 1945 dikatakan; “Setiap orang wajib menghormati HAM orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”

            Pasal 28 J ayat 2 1945 dikatakan; “Dalam menjalankan dan melindungi hak asasi dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan UU dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum.

            Pada akhirnya kami ingatkan pada komite HAM dunia dan Indonesia bahwa Indonesia beserta banyak negara lain di dunia yang beragama samawi, masih takut akan murka Allooh akibat maraknya LGBT di dunia ini.

Penutup

            Alhamdulillah, dengan berkat rahmat Allooh dan kasih sayangNya, saya bisa menyelesaikan tulisan ini. Telah dituliskan pada artikel ini alasan-alasan kenapa LGBT tidak dapat dilegalisasi. Baik dengan alasan ilmu kesehatan jiwa, agama dan HAM. LGBT termasuk penyakit sociopath atau anti-sosial, bagi lingkungan masyarakat yang bermoral dan beragama. Komunitas LGBT adalah virus menular yang dapat merusak kehidupan masyarakat. Mereka harus diobati dengan intensif.

            Semoga tulisan ini dapat menjadi referensi bagi siapa saja yang berjuang untuk mengembalikan LGBT kembali menjadi manusia yang sehat.

Berikut adalah orang-orang yang kebingungan kenapa mereka menjadi LGBT. Bila anda memahami tulisan ini dengan baik diharapkan anda dapat menjawab bahwa alasan orang-orang terhormat yang menjadi LGBT itu adalah salah atau tidak bisa di terima.

Semoga tulisan ini dapat menjadi jawaban bagi mereka dan menambah semangat mereka untuk berobat menjadi orang normal kembali.

Noah Michelson, MFA, Executive Editor of the Gay Voices blog at theHuffington Post, stated in his Jan. 31, 2014 Huffington Post article titled “Why This Man’s Claim That People ‘Choose’ to Be Gay Isn’t Just Total Bullsh*t — It’s Dangerous”:

“[W]hat we do with our attractions and how we perform them is a choice. I chose to come out of the closet. I choose to have sex with men. I choose to rarely go to gay bars. And so on and so forth. But I didn’t choose to be gay.

In fact, I tried my damnedest to not be gay. There is really no way for me to explain how badly it sucked to grow up queer in small-town Wisconsin in the ’80s. If I could have chosen to be straight, I would have. And I did try. I spent my study hall periods in ninth grade writing letters to God asking him to make me straight. I spent my nights lying awake, trying with every ounce of my being to convince Jesus to materialize at the foot of my twin bed and take my sick queer desires into his sacred pink heart, where they’d be vanquished and I could finally date a cheerleader and be just like every other guy in my school. When, after I’d been trying for months, it didn’t happen, I spent the rest of my freshmen year considering the different ways I could kill myself…

Though I agree that it should not matter how we are oriented, whether from birth or from choice, and that our access to equal rights and our freedom from punishment should not be contingent on us being ‘born this way,’ I do believe we are innately oriented.”

Jan. 31, 2014 – Noah Michelson, MFA

James C. Hormel, JD, former United States Ambassador to Luxembourg, stated in his Nov. 16, 2011 article for CNN titled “Being Gay Is Not a Choice”:

“One of the main reasons discrimination persists is that many people in America… advance and reinforce the myth that being gay is a choice. For them, it is as if we silly LGBT people would be perfectly happy and healthy if we would just make a different set of decisions about our lives. As a young boy growing up in Austin, Minnesota, teachers forced pens into my right hand in the futile hope of correcting my left-handedness. If they had known I was gay, they might have tried to fix that, too. They would have failed. I spent the first 35 years of my life trying very hard not to be gay, to the extent that I married my college sweetheart and created a beautiful family of five children with her. Hard as I tried to make that life work, I could not escape my attraction to men. Choice had nothing to do with it…

Until the time that people accept that all of us are born into our sexual orientation and identity, LGBT citizens will still endure discrimination and selective application of the Constitution’s protections.”
Nov. 16, 2011 – James C. Hormel, JD 

Human Rights Campaign, a nonprofit civil rights organization, wrote the following information in a Nov. 2003 article “Guide to Coming Out,” published on its website HRC.org:

“Did you choose your sex when you were born? Sexuality and gender identity are not choices any more than being left-handed or having brown eyes or being heterosexual are choices. They are a part of who you are. The choice is in deciding how to live your life.”

Nov. 2003 – Human Rights Campaign 

Harold M. Schulweis, ThD, Rabbi of Valley Beth Shalom Temple, wrote the following information on his Temple’s website VBS.org in Mar. 2004:

“Scholars agree that the authors of the Bible and Talmud took their position on the issue of homosexuality on the assumption that homosexual behavior was an act of freedom of choice, that the homosexual acted either to defy God, or to oppose the law, or as a holy prostitute using his or her body, to serve a pagan cult. The assumption of the ancients about the motivation of the homosexual was based on factual error… we are dealing with mounting evidence that there are genetic factors which play a large role, perhaps a determining role, in this behavior.”

Mar. 2004 – Harold M. Schulweis, ThD 

Kenneth S. Kendler, MD, Director of the Virginia Institute for Psychiatric and Behavioral Genetics, wrote the following information in his article “Sexual Orientation in a US National Sample of Twin and Nontwin Sibling Pairs,” published in the Nov. 2000 issue of The American Journal of Psychiatry:

“In accord with findings from prior twin studies, resemblance for sexual orientation was greater in monozygotic twins than in dizygotic twins or nontwin sibling pairs. These results suggest that genetic factors may provide an important influence on sexual orientation.”
Nov. 2000 – Kenneth S. Kendler, MD 

Richard Pillard, MD, Professor of Psychiatry at the Boston University School of Medicine, wrote the following information in his article “The Genetic Theory of Sexual Orientation,” published in the Winter 1997 issue of Harvard Gay and Lesbian Review:

 “A problem for those of us who favor a genetic basis for sexual orientation is why, from an evolutionary point of view, gay attractions should exist at all. My suggestion is that both orientations [heterosexual and homosexual] are genetically programmed, that both appeared during the evolutionary history of our species and therefore may exist at least in rudimentary form in our close primate relatives…”

Winter 1997 – Richard Pillard, MD 

Anthony Bogaert, PhD, Associate Professor at Brock University, wrote the following information in a May 17, 2006 article titled “Biological Versus Nonbiological Older Brothers and Men’s Sexual Orientation,” published byPNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America):

“I demonstrate that the number of biological older brothers, including those not reared with the participant (but not the number of nonbiological older brothers), increases the probability of homosexuality in men. These results provide evidence that a prenatal mechanism(s), and not social and/or rearing factors, affects men’s sexual orientation development.”
May 17, 2006 – Anthony Bogaert, PhD

Kenneth M. Cohen, PhD, Lecturer in Human Development at Cornell University, wrote the following information in his book Archives of Sexual Behavior, published in 2002:

“Recent scans of the human genome reveal that some gay males share a genetic marker for homosexuality on the X chromosome. One avenue through which genes regulate homoeroticism is by instructing the brain to develop in a sex-atypical manner.”

2002 – Kenneth M. Cohen, PhD 

Vernon L. Quinsey, PhD, Former Head of the Department of Psychology at Queen’s University, wrote the following statements in the article titled “Etiology of Anomalous Sexual Preference in Men,” published in the June 2003 issue ofAnnals of the New York Academy of Sciences:

“The determinants of sexual interest, in the sense of preferences for the same or opposite sex… appear to be caused by the neural organizational effects of the intrauterine hormonal events.”

June 2003 – Vernon L. Quinsey, PhD

Qazi Rahman, PhD, lecturer in psychobiology at the University of East London, was quoted as having said the following during a Mar. 25, 2003 interview withIrish Examiner:

“Because we know that performance on these cognitive tests depends on the integrity of specific brain regions, the differences implicate robust differences between the brains of homosexual and heterosexual men and women and suggest that hormonal factors early in development (probably during the 1st trimester of pregnancy) produce these differences.”

Mar. 25, 2003 – Qazi Rahman, PhD

Edward O. Wilson, PhD, Professor Emeritus in the Department of Biology at Harvard University, wrote the following information in his book On Human Nature, published in 1978:

“Homosexuality is normal in a biological sense, that it is a distinctive beneficial behavior that evolved as an important element in human social organization. Homosexuals may be the genetic carriers of some of mankind’s rare altruistic impulses.”

1978 – Edward O. Wilson, PhD

Erik Holland, author of The Nature of Homosexuality, wrote the following opinion in a Feb. 28, 2005 email to ProCon.org, clarifying a change in his position on the etiology of homosexuality:

 “‘…homosexuality is partly innate and partly socially acquired, i.e., various social circumstances make people predisposed toward homosexuality. [2004].

The passage above describes my attitude before I started working on the book… I ended up reevaluating my stance on homosexuality after some enquiry. My new stance is what you will find summarized on the back cover of my book, i.e., homosexuals are born that way.”
Feb. 28, 2005 – Erik Holland

Magnus Hirschfeld, MD, 19th century physician and Founder of the Institute for Sexual Sciences, wrote the following information in his book Sappho and Socrates, published in 1896:

“In the embryonic state, people are bisexual, but in the course of their natural development, most lose their desire for members of the same sex. These people are the heterosexuals, who love members of the opposite sex. Another category consists of those individuals whose sexual organs develop normally but in whom the desire for same-sex individuals in the feeling center fails to recede. The results are men who love men and women who love women.”
1896 – Magnus Hirschfeld, MD 

 

Comments are closed.