Pokok Pangkal Taat dan Maksiat

T. MUDWAL

            Kalam hikmah ke 35 dari Al Imam Ibnu Athoillah Askandari pada kitab Hikamnya seperti yang dituliskan DR. Muhibuddin Waly (Doktor pertama Asia Tenggara dalam masalah hukum Islam dari Al-Azhar University Cairo) bertema: “Pokok Pangkal Taat dan Maksiat”. Dimana menurut beliau pokok pangkal taat dan maksiat, terjadi karena ridho atau tidak ridhonya manusia itu terhadap nafsu. Maksiat terjadi karena ridho pada nafsu. Sedangkan taat terjadi karena tidak ridho pada nafsu. Lingkungan sangat mempengaruhi terjadinya ridho atau tidak ridho pada nafsu itu. Karena itu menurut beliau, teman yang bodoh tapi baik akhlaknya dalam arti tidak ridho pada nafsunya lebih baik ketimbang teman yang banyak ilmunya (alim) tapi selalu ridho pada nafsunya. Bagaimana saya menjabarkan kalam hikmah ini? Dengan berpegang pada ayat-ayat Al-Qur’an saya mencoba menjabarkannya:

  1. S Al-A’raf ayat 172

“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allooh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfiman): “Bukankan Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke Esaan Tuhan).

  1. S Asy-Syams ayat 8

 “ Maka Allooh mengilhamkan pada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya”

  1. S Yusuf ayat 53

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

            Manusia berdasarkan ilmu kedokteran modern terdiri dari 3 unsur yaitu Id, Ego dan Superego. Id adalah seluruh keinginan atau nafsu manusia. Dimana tingkat tertinggi dari keinginan itu adalah aktualisasi dirinya atau dihargainya manusia itu oleh lingkungannya atau bahkan apabila mungkin dia dapat berkuasa di lingkungannya. Ego adalah akal pikiran manusia. Sedangkan Superego adalah segala aturan atau moral yang di dapat dari luar yang diperlukan supaya manusia itu dapat bersosialisasi dengan lingkungannya secara baik, sehingga tercapailah keinginan untuk beraktualisasi tersebut. Secara organik, akal pikiran atau area kebijaksanaan dan aturan-aturan yang didapat sejak kecil berada pada bagian otak sebelah depan atau pada daerah Pre Frontal Cortex (PFC). Sedangkan nafsu, seperti makan, minum, hubungan seksual dan sebagainya berada pada bagian otak yang bernama Sistim Limbik yang berada dibelakang area Pre Frontal Cortex.

            Tapi dari Al-A’raf ayat 172 dan Asy-Syams ayat 8 dari Al-Qur’an, kita  dapat menarik kesimpulan bahwa ada Insting Baik yang telah di tanamkan pada manusia sejak dia lahir. Inilah yang dinamakan hati nurani atau saya katakan sebagai Id Allooh. Jadi dia termasuk bagian dari Id tapi Id Allooh atau insting kebenaran. Id Allooh ini selalu memberikan impuls kepada Ego, untuk terus menerus mencari kebenaran atau mencari siapakah Tuhan yang sebenarnya. Dan Id Allooh ini juga berada pada Area PFC atau area kebijaksanaan. Karena keinginan tertinggi dari manusia adalah aktualisasi maka terjadilah korelasi tarik menarik antara Id, Id Allooh, Ego, dan Superego.

            Seorang takut berbuat salah atau takut berbuat maksiat oleh karena takut tidak dihargai oleh lingkungannya atau takut masuk neraka jahannam (akibat adanya Superego). Tapi Id atau nafsu selalu minta untuk dipuaskan oleh Ego. Bahkan tekanan dari Id atau nafsu bisa sampai tahap tak terpuaskan. Secara organik, ini identik dengan keluarnya dopamin yang sangat banyak dari sistim limbik. Dopamin akan memberikan rasa puas pada individu. Untuk individu itu terus puas, diperlukan rangsang yang terus menerus terhadap sistim limbik. Sehingga diperlukan berbagai macam rangsang yang baru dari Id untuk terus memacu keluarnya dopamin. Pada akhirnya dopamin akan memenuhi PFC dan membuat hilangnya area kebijaksanaan atau membuat orang tersebut seperti hewan. Dan inilah yang kita sebut dengan nafsu yang tidak terpuaskan.

Contoh bagaimana terjadi korelasi tarik menarik antara Id, Id Allooh, Ego, dan Superego, misalnya pada kawin mut’ah. Keinginan untuk berhubungan seksual sepuas-puasnya, mendesak Ego untuk menilai Superego yang melarang keinginan itu. Karena desakan Id yang sangat kuat, Ego memberikan rasionalisasi, bahwa kawin mut’ah tidak apa-apa. Kawin mut’ah masih dilakukan oleh sebagian sahabat pada zaman nabi Muhammad sampai dengan Abu Bakar. Baru pada zaman Umar, semua sahabat tidak melakukannya. Para sahabat nabi tidak melakukannya oleh karena takut pada Umar, yang saat itu adalah khalifah umat Islam. Apabila Id Allooh masih berfungsi (karena Id Allooh, bisa tidak berfungsi lagi, apabila terlalu sering di abaikan) akan memberikan impuls ke otak lagi atau ke Ego yang mempertanyakan kebenaran rasionalisasi atau argumen itu. Maka Ego atau akal akan membaca Qur’an dan melihat hadis nabi lagi serta melihat efek dari perbuatan kawin mut’ah atau kawin gonta-ganti pasangan itu. Mut’ah dalam arti kawin kontrak adalah kawin yang dapat berakhir dalam tempo satu jam, tanpa wali dan saksi dengan wanita yang tidak terhitung jumlahnya. Jelas lah mut’ah adalah suatu zina. Dan zina ini adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk (Al-Isra ayat 32). Secara kesehatan pun, gonta ganti pasangan ini jelas faktor resiko yang sangat kuat untuk terjadinya penyakit AIDS. Penyakit yang sampai sekarang belum dapat disembuhkan. Secara hadis nabi memang terdapat dua hadis. Hadis pertama memang membolehkan kawin mut’ah. Tapi hadis yang kedua, nabi mengharamkan kawin mut’ah untuk selama-lamanya. Jadi secara hadis nabi pun kawin mut’ah tertolak. Apabila sahabat nabi masih melakukan kawin mut’ah pada zaman nabi atau zaman Abu Bakar yang singkat itu (3 tahun), karena hadis nabi itu masih belum terdengar oleh sebagian sahabat. Barulah di zaman Umar seluruh sahabat nabi mendengar hadis tersebut. Karena itulah Umar kemudian menetapkan kawin mut’ah sebagai sesuatu yang di haramkan dan dapat dihukum.

Dengan alasan-alasan yang jelas itu, Ego yang cerdas akan tidak ridho pada keinginan Id atau nafsu untuk melakukan hubungan seksual secara mut’ah. Ego memilih untuk perkawinan yang sah dengan ada saksi dan wali bahkan kalau perlu sampai dengan 4 orang. Dan itu didukung oleh Qur’an maupun hadis serta efek terhadap kesehatan adalah baik. Itulah nafsu yang diberi rahmah oleh Allooh SWT berdasarkan surat Yusuf ayat 53.

Bagaimana dengan keinginan aktualisasi dari manusia dalam masalah mut’ah tersebut? Kalau dia hidup di Iran penolakan terhadap ajaran kawin mut’ah akan dilecehkan oleh Superego atau moral atau gaya hidup yang berasal dari masyarakat lingkungannya. Dia akan di hinakan. Tetapi orang tersebut adalah orang yang sangat sehat jiwa dan fisiknya. Jiwa nya sehat karena tidak terjadi pertentangan antara Ego, Id Allooh, dan Id. Sedangkan secara fisik sehat karena tidak terkena penyakit AIDS. Aktualisasi yang tidak didapatkan dari lingkungannya akan ditutup dengan harapan aktualiasasi di akhirat (masuk surga Jannatunna’im). Atau dia pindah ke tempat lain yang menghormati prinsipnya untuk tidak mut’ah.

Begitu pula dengan masalah LGBT. Insting atau Id untuk melakukan LGBT, memang telah ada sejak lahir. Tetapi Id itu tidak harus di puaskan oleh karena bertentangan dengan Id Allooh, akal yang sehat dan lingkungan yang sehat. Karena LGBT pada akhirnya akan menghancurkan individu itu dan tatanan sosial masyarakat. Insting untuk melakukan LGBT adalah kecil. Penyebab utama besarnya nafsu untuk melakukan LGBT karena pengaruh Superego atau lingkungan.

Bagaimana aktualisasi individu yang menolak LGBT? Bila dia hidup di Eropa atau Amerika Serikat, maka sudah pasti aktualisasi tidak terjadi atau dia akan di lecehkan. Tetapi seperti uraian di atas pada masalah mut’ah, maka orang itu akan mendapatkan jiwa dan fisik yang sehat. Surga Jannatunna’im adalah harapan untuk tercapainya aktualiasasi di akhirat kelak. Kalau dia ingin aktualiasi di dunia maka silahkan pindah ke Indonesia. Karena melakukan LGBT masih dilecehkan atau dihinakan di Indonesia.

Faktor lain lagi yang menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat selain masalah ridho terhadap nafsu dan buruknya lingkungan yaitu adanya satu zat yang dinamakan setan. Setan ini akan meninggikan kekuatan dari Id, dan memperburuk lingkungan. Untuk mengatasi ini, memohon petunjuk dan perlindungan pada Pencipta setan tersebut atau Allooh SWT adalah kuncinya.

KESIMPULAN

Supaya kita tidak berbuat maksiat atau tidak ridho pada nafsu, maka kekuatan Id harus di lemahkan, Id Allooh harus di perkuat, Superego yang baik harus di tingkatkan, Ego harus di kuatkan dan memohon petunjuk serta perlindungan Allooh SWT dari tipu daya setan yang terkutuk. Itu berarti tuntunan agama seperti berpuasa, sholat, guru-guru yang baik, banyak membaca, teman yang baik harus dilakukan serta berusaha keras untuk memperbaiki lingkungan yang buruk.

Comments are closed.