Renungan Tentang Gelar

Taufiq M Waly, Sp.PD

            Gelar tidak selalu mencerminkan kemampuan seseorang. Dalam legenda silat Cina, orang yang paling hebat ilmu silatnya adalah Bu Pun Su Lu Kwancu, yang artinya pendekar tanpa nama dan tanpa gelar. Karena dia tidak pernah mau menyebutkan namanya dan orang-orang sulit memberikan gelar kepadanya karena dia mempunyai seluruh ilmu silat tertinggi (ilmu pedang, ilmu meringankan tubuh, ilmu tangan kosong, termasuk juga ilmu kehidupan). Sehingga orang memberikan gelar kepadanya Bu Tek Siansu, yang artinya Siansu atau orang saleh  tanpa tanding. Nabi Khaidir pun tidak pernah muncul untuk memperlihatkan ilmunya pada masyarakat untuk mendapatkan gelar dan kehormatan. Bahkan kalau bukan karena perintah Allah SWT, dia enggan untuk menerima Musa AS yang terkenal kehebatannya dan termasuk dalam kelompok nabi-nabi Ulul Azmi (nabi-nabi yang terkemuka). Nabi Musa yang hebat itu pun hanya diberikan kesempatan 3 kali untuk bertanya saja dan disuruh pulang apabila telah memenuhi itu. Itu adalah contoh gelar tidak mencerminkan kemampuan seseorang. Dan itu juga contoh bahwa penghargaan dari masyarakat atau gelar tidak dibutuhkan, tapi penghargaan dari langitlah yang mereka tuntut (manusia bertakwa).

            Tapi dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan gelar. Sehingga masyarakat dapat menempatkan di strata mana orang tersebut berada dan apa wewenangnya atau kekuasaannya. Penghormatan akan diberikan sesuai stratanya (itulah hukum alam). Penghormatan masyarakat terhadap Musa AS akan lebih tinggi daripada penghormatan kepada Nabi Khaidir. Sebab Musa AS jelas orangnya dan berkecimpung dalam kehidupan bermasyarakat dan membuktikan kenabiannya, sehinga dia pantas mendapatkan strata tertinggi. Seseorang yang ingin mengobati penyakit manusia akan menempati strata tertentu pada masyarakat. Karena itu dibuatlah suatu aturan dan diberikanlah gelar dokter , supaya dengan itu dia mendapatkan kekuasaan atau wewenang untuk mengobati manusia. Manusia atau masyarakatpun tahu, apabila dia sakit kemana seharusnya dia pergi. Seorang tanpa gelar dokter tidak boleh mengobati manusia atau masyarakat walaupun menurut Allah SWT ataupun pandangan masyarakat dia termasuk orang-orang yang saleh/bertakwa. Karena begitu sulitnya untuk menguasai seluruh ilmu pengobatan/ilmu kedokteran maka dibuatlah aturan tentang spesialisasi-spesialisasi dengan alasan-alasan yang sama. Jadi gelar spesialis dibutuhkan juga.

            Bagaimana dengan gelar doktor ?  Gelar tersebut diberikan oleh masyarakat untuk menunjukkan bahwa orang tersebut telah menciptakan suatu ilmu baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Dan orang yang mendapatkan gelar tersebut secara otomatis akan menempati strata yang lebih tinggi lagi di masyarakat. Bagaimana dengan orang yang bertakwa ? orang yang bertakwa bukan mencari gelar doktor, tapi mereka terpaksa mengikuti aturan tersebut, supaya ilmu yang diciptakannya itu dapat digunakan secara resmi untuk kebaikan masyarakat. Sehingga masyarakat tidak ragu-ragu dalam memakai ilmu orang tersebut. Masalahnya sekarang adalah adanya niat buruk dari sesorang untuk mencapai gelar doktor dan adanya niat buruk dari para wakil masyarakat atau yang berwenang ataupun kebodohan dari para wakil masyarakat itu dalam memberikan gelar doktor tersebut. Plagiat, kolusi, dan nepotisme membuat gelar doktor menjadi tidak berguna bahkan bisa berbahaya. Dan kacaunya ,orang tidak berguna ini mendapatkan strata yang tinggi pada maasyarakat.  Karena itu perlu dibuat tes, apakah memang pantas orang tersebut menyandang gelar doktor. Salah satunya adalah menulis pada jurnal internasional kelas I minimal satu kali atau membuat situs ilmiah tentang ilmunya itu di internet. Bila situs tersebut dikunjungi oleh minimal 70 Negara di dunia dan jumlah kunjungan minimal 1500 kali dari luar negeri, maka orang tersebut memang pantas mendapatkan gelar doktor selain lulus ujian dari para pengujinya. Orang yang berhasil melakasanakan hal tersebut di atas sudah seharusnya mendaptkan gelar doktor dengan predikat memuaskan/sangat memuaskan/cum laude. Sedangkan yang gagal diberikan gelar doktor dengan predikat biasa. Sedangkan seseorang yang telah mencapai S2, walaupun secara resmi tidak mengikuti pendidikan S3, dapat pula diberikan gelar doktor bila telah menembus syarat-syarat publikasi di internet seperti yang dituliskan di atas.  Jelas dalam hal ini harus ada sistem yang mengatur secara nasional agar semua situs ilmiah dapat terlindungi dari pendatang-pendatang palsu dari luar negeri (anonymous, proxy).

            Bagaimana cara lain sikap orang bertakawa bila dia menciptakan suatu ilmu baru ? Ilmu, menurut orang bertakwa diberikan oleh Allah SWT. Karena itu sudah sepantasnya diberikan kepada para berwenang untuk mengujinya dan kalau terbukti benar untuk melegalisasinya supaya dapat dipakai oleh masyarakat. Dia tidak peduli apakah akan mendapatkan gelar doktor ataukah tidak. Dan tidak peduli apakah masyarakat memberikan penghargaan kepadanya ataukah tidak. Bayaran atau penghargaan dari langit itulah yang selalu diharapkan.

            Bagaimana dengan gelar profesor ? Profesor bukanlah gelar tapi penghargaan atau jabatan atas lamanya mengajar. Tetapi karena profesor ini akan mendapatkan tingkat strata tertentu dari masyarakat maka sudah sepantasnya tidak sembarangan diberikan betapapun dia sudah lama mengajar di tempat itu. Karena tingginya status yang diberikan dengan kata-kata profesor itu maka banyak orang menuliskan kata profesor di depan namanya yang menunjukkan bahwa ia berada pada strata tertentu pada masyarakat. Dengan demikian profesor seperti identik dengan gelar. Berdasar renungan saya, seorang boleh menuliskan kata profesor atau guru besar itu bila dia menjadi guru besar dari banyak universitas atau guru besar nasional. Kalau dia belum bisa mencapai guru besar nasional maka dia belum bisa mencantumkan gelar profesor pada saat menulis di koran atau pada forum-forum nasional .Dia hanya boleh menganggap dirinya guru besar atau profesor bila berada di depan murid-muridnya saja atau berada di universitas tempat dia mengajar. Untuk mencapai gelar profesor nasional menurut renungan saya, maka dia harus menjadi doktor lebih dahulu dan pernah menulis di jurnal internasional kelas I minimal 3 kali. Karena sulitnya menembus jurnal internasional kelas I tentang kedokteran (baik dengan alasan relevan ataupun tidak relevan yang diberikan jurnal internasional tersebut), maka seorang doktor dapat diberikan gelar profesor nasional bila mempunyai situs ilmiah tentang kedokteran di internet yang dikunjungi oleh minimal 50 negara di dunia dengan jumlah kunjungan 5000 kali dimana 1000 kali kunjungan tersebut berasal dari luar negeri. Menurut renungan saya pula, seseorang pantas mendapat gelar profesor nasional walaupun belum menjadi doktor bila telah menulis minimal 5 kali di jurnal internasional kelas I tentang kedokteran atau mempunyai situs ilmiah tentang kedokteran di internet yang dikunjungi minimal 70 negara dengan jumlah kunjungan minimal 15000 kali dimana minimal 5000 kunjungan berasal dari luar negeri. Seperti di atas, perlindungan terhadap kunjungan palsu dari luar negeri mutlak dilakukan.

            Bagaimana dengan gelar S1 dan S2 ? Menulis merupakan hal yang biasa pada S1 terlepas daripada bagaimana kualitasnya. Tetapi membebani mereka dengan harus membuat jurnal sebelum mendapat S1 (walaupun hanya jurnal online )tetaplah berarti menambah beban pada mereka. Memerintahkan dosen-dosen S1 untuk membimbing mereka jelas juga merupakan beban tambahan yang berat bagi dosen-dosen S1 tersebut. Beban penulisan jurnal online pada mahasiswa yang ingin mendapatkan S1 sebaiknya hanya diberikan pada mahasiswa-mahasiswa yang sangat cerdas (IP>3). Mereka akan mendapatkan tambahan nilai bila berhasil mempublikasikan tulisan di jurnal, walaupun hanya jurnal online. Bila mereka gagal, maka IP mereka tertinggi hanya 3.0 pada saat menerima gelar S1 tersebut. Diharapkan dengan tantangan ini, mahasiswa cerdas tersebut akan temotivasi untuk membuat tulisan di jurnal. Di mana semua itu akan sangat bermanfaat bagi dirinya dan bangsa Indonesia di masa depan.

            Bagaimana dengan gelar S2 ? Pernah menulis di jurnal online sudah sepantasnya diwajibkan bagi para mahasiswa yang ingin mendapatkan gelar S2. Tetapi mewajibkan mahasiswa tersebut untuk menembus jurnal nasional jelas merupakan beban yang dahsyat bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan gelar S2. Pendekatan sistem seperti S1 mungkin dapat diterapkan pada S2 dengan patokannya adalah jurnal nasional. Telah menembus jurnal nasional sebaiknya baru diwajibakan bila seseorang ingin menjadi mahasiswa S3.

            Demikianlah renungan saya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiiin.

 

Comments are closed.