TAK ADA LAGI KATA LEGOWO PADA KECURANGAN PILPRES 2019

Bismillaahirrohmaanirrohiim

TAK ADA LAGI KATA LEGOWO PADA KECURANGAN PILPRES 2019
T. MUDWAL

Sebagai seorang yang sangat cinta pada tanah air dan agamanya, maka mutlak bagi seorang intelektual meluangkan waktunya, menulis dan memberikan sumbangan pemikiran pada tanah air dan agamanya. Itulah yang saya lakukan pada setiap rezim, mulai dari rezim Soeharto sampai Jokowi.

Kesimpulan saya dari rezim Jokowi, dalam hampir 5 tahun pemerintahannya adalah kegagalannya dalam seluruh faktor. Dan itu semuanya saya rekam dengan baik dalam tulisan-tulisan di situs saya renungan-tmudwal.com.

Rezim Jokowi telah gagal dalam bidang ekonomi dan mensejahterakan rakyat dibidang kesehatan dan pendidikan (Pola Pikir Sri Mulyani/Jokowi vs Pola Pikir Nabi Muhammad Saw Dalam Masalah Hutang). Kegagalan dalam menjaga keamanan negara RI (Senjata Ilegal dan Kegaduhan (Rakyat Bersuara) ). Kegagalan negara dalam menjaga perkembangan generasi muda Indonesia yang sehat dan bertaqwa kepada Tuhan YME (LGBT No Way (Teori Id Allooh), Dicari Presiden Indonesia Yang Mampu Memenangkan Jihad Melawan Setan Narkoba Di Indonesia, Maju Terus Pantang Mundur Anakku!, Selamatkan Indonesia, The Game is Over for Syi’ah). Keinginan rezim Jokowi untuk kembalinya PKI di Indonesia dan tekanan terhadap ajaran Islam serta ulamanya (Apakah Perlu Kuburan-Kuburan dan Sumur-Sumur itu di Bongkar Kembali?,  Dengan Alasan Apa Generasi Milineal Ingin Memperbaiki Film G30S/PKI Arifin C Noer?, Konsep Hidup Berpancasila Menurut Islam, Bendera Berwarna Hitam Dan Kalimat Tauhid Berwarna Putih Dengan Khat Tsuluts Diatasnya Adalah Bendera Umat Islam Sedunia (Suatu Proklamasi) . Dan kegagalan Indonesia dalam multi faktor (Setan Telah Berkuasa Di Indonesia, Bersatulah!).

Dengan berdasar tulisan-tulisan tersebut, saya berkesimpulan bahwa multak rezim ini harus diganti. Dan diyakini begitu pula pendapat mayoritas intelektual Indonesia (definisi intelektual menurut saya adalah orang-orang yang cerdas, berilmu tinggi, merdeka dan jujur).

Faktor utama yang menyebabkan rezim ini harus diganti adalah keinginan yang jelas untuk kembalinya ajaran Atheisme dan Komunisme di Indonesia. Atau keinginan yang jelas untuk kembalinya PKI di Indonesia.

Agama Islam jelas mengajarkan biarlah hidup miskin asalkan mati dalam keadaan Islam. Dengan dasar itu ajaran Islam menolak bila kerja, kerja, kerja adalah dasar utama perilaku rakyat Indonesia. Dari mulai terbuka mata di pagi hari, sampai dengan tertutupnya mata di malam hari, hanya uang dan uang dalam pikiran rakyat Indonesia. Ajaran Islam menolak cara negara Cina untuk menjadi kaya. Tidak peduli halal dan haram, tidak peduli surga atau neraka, yang terpenting adalah uang masuk ke kantong negara Cina. Dilain pihak ketua partai PDI-P yang notabene adalah partai dari Presiden RI, secara jelas (bukan secara implisit), menyatakan bahwa ajaran agama adalah mengganggu dalam usaha Indonesia menjadi negara makmur, dengan kata-kata yang terkenal self full filling prophecy. Dan Jokowi sebagai  Presiden RI yang adalah petugas partai PDI-P telah melakukan hal tersebut, betapapun belum maksimal. Hal ini disebabkan karena masih adanya TAP MPR No. XXV / 1996 yang menyatakan bahwa ajaran atheism, komunisme dan PKI masih dilarang di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, mereka berusaha menjadikan perang pemikiran sebagai senjata terhadap para pemimpin Islam dan intelektualnya dalam usaha menjadikan PKI atau ajaran atheisme dan komunisme dapat diterima oleh rakyat Indonesia. Cara berfikir logis, empiris dikemukakan oleh Megawati untuk menolak cara berfikir berdasarkan ayat-ayat kitab suci. Saya telah menjawab tuntas pola pikir Megawati tersebut. (Konsep Hidup Berpancasila Menurut Islam, http://renungan-tmudwal.com/konsep-hidup-berpancasila-menurut-Islam/). Cara berfikir hak azazi manusia, dilontarkan oleh Luhut Binsar Pandjaitan. Saya pun telah menjawab tuntas pola pikir Luhut Binsar Pandjaitan tersebut. (Apakah Perlu Kuburan-Kuburan dan Sumur-Sumur itu di Bongkar Kembali?, http://renungan-tmudwal.com/apakah-perlu-kuburan-kuburan-dan-sumur-sumur-itu-di-bongkar-kembali/). Cara berfikir dengan berlindung pada pemikiran pakar atau ilmuan internasional dilakukan oleh Jokowi untuk mengalahkan intelektual Islam. Intelektual pendukung Jokowi mengatakan bahwa konflik internal Angkatan Darat lah bukan PKI yang menyebabkan peristiwa G30S/PKI. Karena itu Jokowi mengatakan film G30S/PKI Arifin C Noer harus diganti dan dibuat yang baru. (Dengan Alasan Apa Generasi Milineal Ingin Memperbaiki Film G30S/PKI Arifin C Noer?,http://renungan-tmudwal.com/dengan-alasan-apa-generasi-milineal-ingin-memperbaiki-film-g30spki-arifin-c-noer/). Para intelektual pendukung rezim Jokowi memakai tulisan Prof. Ben Anderson, pakar studi internasional dari Universitas Cornell, Amerika Serikat yang menyatakan bahwa PKI adalah korban dari konflik internal para elite Angkatan Darat. Suatu teknik yang jitu, dalam perang pemikiran untuk mengalahkan para intelektual Indonesia yang menolak kembalinya PKI. Selama yang saya ketahui, bila telah disebut pendapat seorang pakar yang tulisannya dalam masalah tersebut dimuat dalam jurnal Internasional terutama jurnal Internasional kelas 1, maka seluruh intelektual dunia, khususnya intelektual negara-negara Asia dan Afrika, akan mengamininya. Kebenaran ilmu dan kehebatan seseorang ditentukan oleh berhasilnya orang tersebut masuk menjadi penulis jurnal Internasional kelas 1. Pengalaman saya sendiri, makin banyak seorang profesor menyebut-nyebut jurnal Internasional, dalam ceramahnya maka profesor itu dianggap sebagai profesor terhebat.

Bagi saya menjadi budak pemikiran dari jurnal internasional harus dilawan. Karena itulah saya menulis Intellectual Enslavement by International Journal (Rise Up Intellectual of Developing Countries!, http://renungan-tmudwal.com/intellectual-enslavement-by-international-journal-rise-up-intellectual-of-developing-countries/) . Dengan keberanian melawan itulah, saya mempelajari tulisan Prof. Ben Anderson dan kemudian membuat bantahan terhadap klaim Prof. Ben Anderson tentang angkatan darat adalah dalang dari penghancuran PKI dan terbunuhnya jutaan kader mereka (Dengan Alasan Apa Generasi Milineal Ingin Memperbaiki Film G30S/PKI Arifin C Noer?,http://renungan-tmudwal.com/dengan-alasan-apa-generasi-milineal-ingin-memperbaiki-film-g30spki-arifin-c-noer/). Saya berharap tulisan itu dapat memenangkan intelektual Islam dalam perang pemikiran yang dilakukan oleh para intelektual yang mendukung kembalinya PKI di Indonesia.

Dengan dasar tulisan diatas, tidak diragukan bahwa bila Jokowi berkuasa untuk periode kedua kalinya, maka PKI pasti akan berdiri lagi di Indonesia. Perang pemikiran akan dilakukan secara massif dengan menggunakan seluruh power yang ada. Brain washing dari masyarakat Indonesia dan para pemimpinnya akan terjadi. Kelemahan ilmu dari masyarakat Indonesia dan para pemimpinnya menyebabkan hal tersebut akan sangat mudah terjadi. Bila mereka masih bertahan, maka kekuatan uang dan akhirnya kekuatan senjata,, diyakini  akan mengakhiri perlawanan dari rakyat Indonesia beserta pemimpinnya atau para ulamanya  yang masih menolak kembalinya PKI ke Indonesia. Prediksi Din Syamsudin dalam ceramahnya didepan ribuan alumni Gontor bahwa umat Islam akan menghadapi bahaya besar bila Jokowi tetap menjadi Presiden, adalah suatu hal yang sangat rasional.

 Dengan alasan diatas, pilpres Aprl 2019 menjadi harapan bagi umat Islam beserta para pemimpinnya untuk menghentikan upaya setan ganas yang bernama PKI itu untuk kembali ke Indonesia. Prabowo-Sandi harus dapat mengalahkan Jokowi-Ma’ruf. Tapi mungkinkah itu terjadi?

Kemenangan Anies terhadap Ahok yang saat itu sangat superpower di Jakarta, menjadi optimisme dari umat Islam dan para pemimpinnya. Padahal Jakarta terlalu kecil bila dibandingkan dengan Indonesia. Dapat dikatakan bahwa saat ini hampir seluruh aparat Pemerintahan dari mulai kepala desa sampai dengan Gubernur berada pada kontrol rezim Jokowi. Dan pada pemantauan saya begitu juga yang terjadi pada aparat kepolisian RI. Apakah saksi-saksi dari Prabowo-Sandi diseluruh Indonesia dapat mengkonter itu?. Apakah saksi-saksi  Prabowo-Sandi diseluruh Indonesia mampu menjaga kotak-kotak suara yang berupa kardus itu sampai dengan selamat di KPU? Setelah sampai di KPU, apakah Prabowo-Sandi dapat melawan komputer-komputer setan dan otak-otak setan yang berada di KPU?. Hermansyah pakar IT menyatakan bahwa salah satu kesulitan terbesar dalam memenangkan Prabowo-Sandi adalah adanya kuda Troya dalam komputer KPU. Dan sebelum semuanya dimulai dari 190.770.329 orang pemilih di dalam negeri itu, berapa puluh juta yang benar-benar bukan WNI dadakan? Berapa juta orang-orang gila itu. Siapa yang mewakili orang-orang gila itu pada saat mencoblos? Siapa pemilih luar negeri yang berjumlah +/- 2 .5 jutaan itu?

Dengan alasan-alasan diatas hampir tidak mungkin untuk tidak terjadinya kecurangan pada pilpres 2019. Kecurangan yang akan menyebabkan Jokowi berkuasa lagi untuk periode kedua. Tapi itu bisa tidak terjadi bila Prabowo-Sandi tidak mau menandatangani kekalahannya, betapapun dipaksa oleh Mahkamah Konstitusi. Karena Mahkamah Konstitusi pun berada dalam kontrol rezim Jokowi. Dan bila Prabowo-Sandi tidak mau menandatangai kekalahan itu, berarti keos akan terjadi. Beranikah Prabowo-Sandi bila terjadi keos? Keos yang mungkin saja menyebabkn hancurnya NKRI dan revolusi berdarah-darah.

Saya meyakini bahwa Prabowo-Sandi tidak berani menerima risiko adanya keos. Atau untuk kedua kalinya Prabowo akan menyatakan legowo, terhadap keputusan KPU yang memenangkan Jokowi tersebut.

Rakyat Indonesia pendukung Prabowo pun beserta para pemimpinnya terpaksa akan ikut legowo. Karena jagoannya telah legowo. Atau karena tidak tahu harus bagaimana lagi. (walaupun secara perhitungan sampai saat ini para pendukung Prabowo-Sandi melihat kemenangan PS adalah minimal 60% suara).  Dan berkuasalah setan di Indonesia. Dan terjadilah segala hal yang buruk itu bagi Indonesia.

Pada ilmu saya, bila terjadi hal yang seperti itu, maka saya setuju bila Allooh SWT menghancurkan Indonesia dan seluruh penduduknya. Karena mati dalam keadaan Islam bagi rakyat Indonesia jauh lebih utama, ketimbang rakyat Indonesia beserta keturunannya menjadi orang-orang kafir atau atheis dan mati dalam keadaan seperti itu (Azab Yang Mengancam Indonesia, http://renungan-tmudwal.com/azab-yang-mengancam-indonesia/)

            Untuk menghindari segala keburukan yang akan menimpa Indonesia itulah, yang menyebabkan tulisan ini  saya buat.

            Umat Islam dan para pemimpinnya atau ulamanya harus mempunyai seorang pemimpin alternatif bila Prabowo legowo dengan segala kecurangan itu. Mental umat Islam harus dipersiapkan untuk berjihad menghentikan pemerintahan rezim Jokowi yang kedua kalinya. Merekapun harus dipersiapkan untuk menerima pemimpin alternatif itu sebagai pemimpin tertinggi di Indonesia. Multak diperlukan pemimpin alternatif yang merupakan kebanggan bagi bangsa Indonesia dan kekasih dari penguasa langit. Betapapun untuk mendapatkan pemimpin yang seperti itu harus merangkak diatas lumpur.

            Tulisan ini, juga saya kirimkan juga pada presiden Jokowi, sebagai renungan bagi dirinya dan para pendukungnya. Silahkan lakukan, apa yang ingin mereka lakukan. Sesunguhnya Allooh tidak peduli terlebih lagi takut atas segala perbuatanNya dalam menghancurkan suatu bangsa sehancur-hancurnya,

Asy-Syam : 15

            Dan Allah tidak hiraukan kehancuran (mereka) yang demikian itu

 

Dikirimkan pada:

1.      Prabowo Subianto

2.      Sandiaga Uno

3.      Gerindra

4.      Demokrat

5.      PKS

6.      PAN

7.      PP Muhammadiyah

8.      PBNU Tebu Ireng

9.      FPI

10.  MIUMI

11.  ICMI

12.  Habib Rizieq Syihab

13.  Anies Baswedan

14.  Amien Rais

15.  Gatot Nurmantyo

16.  Din Syamsudin

17.  MH Ainun Najib

18.  Ustadz Abdul Somad

19.  Ustadz Adi Hidayat

20.  Ustadz Arifin Ilham

21.  Ustadz Felix Siaw

22.  Ustadz Tgk. Zulkarnain

23.  Ustadz Zulkifli Muhammad Ali

24.  Ustadz Gus Nur

25.  K.H. Hasan Abdullah Sahal

26.  K.H. Abdullah Gymnastiar

27.  Ustadz Buya Yahya

28.  Rocky Gerung

29.  Presiden Jokowi