TINJAUAN TERHADAP CARA PENULARAN COVID-19 (USAHA UNTUK MENGHILANGKAN KEPANIKAN DUNIA)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

TINJAUAN TERHADAP CARA PENULARAN COVID-19

(USAHA UNTUK MENGHILANGKAN KEPANIKAN DUNIA)

Raja Waly

Alasan Menulis:

Penelitian tentang virus SARS CoV-2 sebagai penyebab CoVID-19, masih belum banyak di lakukan. Tulisan penelitian tentang itu banyak dilakukan oleh intelektual Cina. Perlu meta analisis untuk membuktikan apa yang di katakan mereka adalah benar.

Dilain pihak kepanikan dunia akibat CoVID-19, semakin parah. Sehingga di perlukan banyak tulisan untuk mengurangi kepanikan itu. Dan salah satunya adalah tulisan ini.

Hipotesa:

Sel Goblet adalah sel target untuk hidupnya virus SARS CoV-2. Kehancuran sel goblet menyebabkan hilangnya pertahanan tubuh yang berupa sekresi cairan kental dan lengket/cairan mucous sehingga menyebabkan virus SARS CoV-2 mudah masuk kedalam paru-paru. Untuk selanjutnya terjadilah radang paru-paru atau pnemonia.

Tersebar berita, masyarakat menolak seseorang untuk dikubur di daerahnya disebabkan orang tersebut meninggal karena CoVID-19. Bahkan ada seorang professor yang di tolak untuk di kubur di suatu daerah karena professor tersebut di duga meninggal oleh karena CoVID-19. Orang-orang tidak mau bersalaman lagi. Ada yang berusaha membuka pintu dengan badannya (bukan dengan tangan). Ada yang membasuh tangan sampai lebih 50 kali sehari. Ada yang ketakutan memegang uang kertas. Bahkan ada dokter, yang memakai jas hujan, sarung tangan dan kacamata google setiap dia praktek. Adapula masyarakat yang berbelanja ke mall dengan memakai pakaian cover all/hazmat. Semua hal di atas terjadi oleh karena ketakutan akan terinfeksi CoVID-19.

Belum ada penelitian untuk SARS-CoV-2 tentang berapa lama dia dapat hidup diluar tubuh manusia. Berdasarkan data virus sebelumnya yaitu SARS-CoV (penyebab SARS/MERS) maka di anggap SARS-CoV-2 dapat hidup di luar tubuh manusia sekitar 2 jam sampai dengan 5 hari. Dengan dasar itu terjadi sengketa pendapat dari para ahli tentang bagaimana penularan CoVID-19 itu, apakah droplet infection atau airborne infection atau kedua-duanya?

WHO menyatakan transmisi CoVID-19 adalah melalui droplet infection (Laboratory testing for coronavirus disease (COVID-19) in suspected human cases, Interim Guidance 19 March 2020 / WHO). Droplet infection adalah masuknya mikroba yang berada dalam setitik cairan kedalam saluran pernafasan manusia. Sedangkan airborne infection adalah masuknya mikroba dari udara sekitar kita karena kita menarik nafas.

Dengan dasar WHO itu, maka penularan dari CoVID-19 adalah  secara droplet infection. Atau setelah orang tersebut batuk, bersin, atau bicara dengan cukup keras maka terjadilah penularan itu.

Pada saat bersin dikeluarkan ±40.000 droplet, dengan kecepatan 100 meter/detik. Pada saat batuk, dikeluarkan ±3.000 droplet. Sedangkan bicara 5 menit dengan cukup keras juga akan menyebabkan keluarnya 3.000 droplet (sama dengan batuk).

Droplet-droplet berukuran > 5µm, disebut large droplet atau droplet besar. Sedangkan droplet kecil atau mikro droplet atau droplet nuclei berukuran ≤ 5 µm. Droplet besar akan tertahan di sistim pernapasan bagian atas (orofaring, nasofaring, trakea). Sedangkan droplet kecil bisa masuk sampai saluran nafas bagian bawah (bronkus dan alveoli). Droplet besar akan mudah masuk bila jarak ≤ 1 meter. Sedangkan droplet kecil bisa menyebar jauh sampai dengan jarak > 1 meter. Setelah droplet dari bersin/batuk/bicara jatuh ke bumi terjadilah mikro droplet. Dan cairan yang ada pada mikro droplet akan mengering setelah 20 menit.

Kesimpulan dari tulisan di atas adalah infeksi terkuat dari CoVID-19, bila ribuan droplet ukuran besar masuk ke saluran pernafasan kita. Tetapi mereka akan tertahan di saluran nafas bagian atas. Sekresi mucous dari sel goblet menyebabkan mereka lebih tertahan atau mati. Bila sel goblet diakui adalah sel target dari SARS-CoV-2, maka kerusakan sel goblet akan menyebabkan hilangnya cairan mucous tersebut sehingga virus tersebut dapat mencapai alveoli. Reaksi imunologi yang terjadi di alveoli, akan menyebabkan terjadinya pneumonia pada orang tersebut.

SARS-CoV-2 yang jatuh kebumi sebelum 20 menit juga potensial untuk menginfeksi manusia. Karena cairan yang masih ada itu memberikan nutrisi pada virus tersebut. Dan bila itu tertiup angin maka penularan yang terjadi adalah penularan secara airborne (tidak disebut droplet infection). Dan kemampuan menginfeksi manusia bisa sampai jauh karena ukurannya kecil dan adanya tiupan angin. Droplet kecil tersebut (mikro droplet) akan mudah masuk ke alveoli betapapun sel goblet masih banyak jumlahnya. Tetapi bila sel goblet mulai rusak maka ribuan mikro droplet akan lebih mudah lagi mencapai alveoli.

Setelah 20 menit atau setelah cairan mongering kemampuan SARS-CoV-2 untuk menginfeksi manusia berkurang. Kurang potensial ketimbang mikro droplet setelah jatuh ke bumi. Selain berkurang juga tergantung di tempat mana virus itu berada dan banyaknya jumlah virus (viral load). Dan penyebarannya secara airborne/aerosol.

Tabel :

Keterangan:

            Penelitian tersebut adalah penelitian pada virus corona bukan virus SARS-CoV-2

Makin lama virus tersebut berada di luar tubuh manusia (diluar sel targetnya) maka makin lemah kekuatan virus tersebut. Apa yang ditemukan pada benda-benda tersebut diatas tidaklah identik dengan jumlah virus. Yang jelas memang di temukan adanya virus, tetapi berapa banyak virus yang masuk hidup tidaklah diketahui. Virus-virus itu jelas akan ditularkan kepada manusia secara airborne infection. Tetapi penyebarannya tidaklah mudah. Perlu viral load yang sangat banyak untuk itu. Contoh viral load yang sangat banyak misalnya tempat ganti pakaian, dokter, atau perawat. Terjadinya ribuan orang yang terinfeksi secara serempak di kota Wuhan adalah contoh ekstrim dari airborne infection. Viral load di langit kota Wuhan sangat luar biasa banyaknya. Dimana hal itu hanya dapat terjadi akibat kebocoran laboratorium virology Wuhan. Langit kota Wuhan yang begitu tinggi viral loadnya menyebabkan jutaan manusia di kota Wuhan menghirup udara tersebut. Terjadilah pnemounia Wuhan akibat CoVID-19.

Pengertian dari penyebaran CoVID-19 seperti yang di terangkan diatas akan berimplikasi seperti berikut:

  1. Pakai masker terus menerus
  2. Mencuci tangan seperlunya saja. Begitu juga pemakaian desinfektan pada tangan. Umat Islam perlu bersyukur karena mereka diperintahkan untuk mencuci tangannya minimal 5 kali sehari (berwudhu).
  3. Sarung tangan tidak perlu di pakai, kecuali masuk ke ruang isolasi atau saat menemui pasien PDP di IGD.
  4. Kaca mata google tidak jelas fungsinya.
  5. Tutup kepala hanya perlu di pakai di ruang isolasi dan di IGD saat menerima pasien PDP. Tetapi membasuh kepala beberapa kali sehari adalah penting. Umat Islam perlu bersyukur karena mereka diperintahkan untuk membasuh kepalanya minimal 5 kali sehari (berwudhu).
  6. Tak usah takut memegang benda apapun termasuk gagang pintu atau uang kertas. Kecuali di ruang isolasi. Dengan demikian bersalaman tidak apa-apa.
  7. Alat pelindung diri (APD) cover all/hazmat termasuk jas hujan tidak usah di pakai. Kecuali di ruang isolasi atau menemui pasien PDP di IGD.
  8. Memandikan mayat tidaklah apa-apa. Bila di lakukan di ruang isolasi atau ruang jenazah. Begitu juga mengeringkan dengan handuk setelah di mandikan. Secara hukum agama memandikan mayat adalah sederhana, yaitu cukup hanya mengucurkan air ke seluruh tubuh. Sebelum di mandikan dilakukan desinfeksi dulu pada seluruh tubuh jenazah tersebut. Setelah dimandikan tidak ada alasan untuk tidak mengkafani. Dan setelah itu dilakukan sholat di ruang jenazah. Tak perlu peti mati, baik waktu di angkat ke pemakaman maupun pada saat di kuburkan. Semuanya itu karena viral load sudah sangat kecil sekali atau mungkin telah tidak ada virusnya lagi akibat desinfeksi dan pemandian jenazah yang telah dilakukan. Bila masih ada virusnya maka kekuatan virus dapat di pastikan sudah sangat berkurang atau mungkin telah mati.

Bila kita yakin telah tidak ada virus pada meja/bangku/lemari dan sebagainya yang telah kita desinfektan, kenapa pula kita menjadi ragu bahwa jenazah CoVID-19 telah steril akibat desinfektan yang kita lakukan.Sholat jum’at bisa dilakukan bila syarat ideal untuk melakukan sholat tersebut terpenuhi. Syarat ideal adalah semua peserta sholat jum’at memakai masker, usia dibawah 65 tahun dan tidak sedang menderita batuk, pilek, Masjid pun harus di desinfektan dengan baik. Bila syarat ideal tidak dapat dipenuhi, maka sholat jum’at di tiadakan.

9. Sholat wajib dan sholat tarawih tidak usah di lakukan di masjid. Karena frekuensi kerumunan terlalu sering, betapapun syarat ideal seperti sholat jum’at telah terpenuhi. Sedangkan sholat hari raya, selain hukumnya Sunnah, jumlah kerumunannya pun terlalu besar. Sehingga tak perlu di lakukan.

Semoga tulisan ini dapat mengurangi kepanikan dunia akibat wabah CoVID-19.

Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

Tembusan:

  1. WHO
  2. Presiden Republik Indonesia
  3. Pemprov DKI Jakarta
  4. Majelis Ulama Indonesia
  5. PP Muhammadiyah
  6. PBNU Tebu Ireng
  7. PBNU Jakarta
  8. FPI
  9. ICMI
  10. MIUMI
  11. Harian Kompas
  12. Harian Republika
  13. KH. Abdullah Gymnastiar
  14. Ustadz Abdul Somad
  15. Ustadz Adi Hidayat
  16. Ustadz Tengku Zulkarnain
  17. KH. Hasan Abdullah Sahal
  18. Buya Yahya
  19. Ustadz Felix Siauw
  20. Cak Nun